kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
7 Oktober 2026
Logo Mobile
Kategori

Upah di Pati Minim, Ketertarikan Warga Kerja ke Luar Negeri Tahun Ini Meningkat

Upah di Pati Minim, Ketertarikan Warga Kerja ke Luar Negeri Tahun Ini Meningkat
Foto: Pelatihan CPMI di Pati. (Singgih Tri/KawalJateng.com)

PATI, KawalJateng.com - Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Pati, jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Pati menunjukkan peningkatan pada tahun 2026 dibandingkan tahun 2025. Pada Desember 2025 tercatat sebanyak 1.056 PMI yang tersebar di sejumlah negara, sedangkan pada September 2026 jumlahnya meningkat menjadi 2.496 PMI.

Perlu diketahui, Taiwan menjadi negara tujuan dengan jumlah PMI asal Kabupaten Pati terbanyak. Pada 2025 tercatat 616 PMI bekerja di Taiwan, kemudian meningkat menjadi 1.563 PMI pada September 2026. Negara tujuan lainnya dengan jumlah cukup besar pada September 2026 yakni Korea Selatan sebanyak 200 PMI, Jepang 198 PMI, Malaysia 175 PMI, Hongkong 165 PMI, dan Singapura 95 PMI.

Selain itu, terdapat peningkatan jumlah PMI di sejumlah negara lainnya. Jepang meningkat dari 17 menjadi 198 PMI, Korea Selatan dari 1 menjadi 200 PMI, Malaysia dari 119 menjadi 175 PMI, Hongkong dari 156 menjadi 165 PMI, serta Turki dari 6 menjadi 21 PMI.

Selain itu, Bhutan ada 10 orang, Brunei Darussalam 4 orang, Guinea Ekuator ada 1 orang, Jerman ada 1 orang, Kepulauan Cook ada 1 orang, Kroasia ada 5 orang, Latvia ada 7 orang, Papua Nugini ada 3 orang, Persemakmuran Dominika ada 7 orang, Pulau Solomon ada 1 orang, Serbia ada 1 orang, Siprus ada 1 orang, dan Sri Lanka ada 2 orang.

Sementara, beberapa negara mengalami penurunan jumlah PMI. Polandia turun dari 8 menjadi 6 orang, Selandia Baru dari 15 menjadi 9 orang, dan Singapura dari 112 menjadi 95 orang. Secara keseluruhan, data tersebut memperlihatkan bahwa hingga September 2026 jumlah PMI Kabupaten Pati mencapai 2.496 orang, atau bertambah 1.440 orang dibandingkan catatan di tahun 2025 yang sebanyak 1.056 orang.

Menurut Kepala Disnaker Kabupaten Pati, Bambang Agus Yunianto, tingginya minat kerja di luar negeri lantaran ingin meningkatkan taraf kesejahteraan. Pasalnya, Upah Minimum Kabupaten (UMK) Pati tak cukup untuk membuat mereka sejahtera.

"Minat kerja ke luar negeri, karena Pati ini kantung PMI, mereka untuk merubah kehidupan yang lebih layak lagi harus ke luar negeri mau tidak mau. Kalau kita hanya mengandalkan UMR Pati Rp2.485.000, sekali buwoh (hajatan) habis. Trennya dari tahun ke tahun naik," ungkapnya kepada KawalJateng.com, Rabu, 7 Oktober 2026.

Meningkatnya tenaga kerja ke luar negeri terjadi usai Pandemi Covid-19. Mereka ada yang berangkat bekerja di sektor formal maupun di sektor informal.

"Trennya dari tahun ke tahun meningkat setelah Covid-19. Anak-anak ini harus mengadu nasib ke luar yang paling banyak kerja di Korea dan Jepang, itu yang formal. Sedangkan, yang informal paling banyak Taiwan dan Malaysia," sebutnya.

Dijelaskan sektor formal mulai dari di bidang pertanian, industri, dan perhotelan. Sedangkan, sektor informal mulai dari caregiver.

"Sektornya kalau Taiwan dan Malaysia caregiver, Korea dan Jepang itu pertanian, ada perusahaan. Kalau di Eropa Jerman banyak dari SMK BTB Juwana di sektor industri, di Turki dan Polandia sektor perhotelan," jelasnya.

Mereka tertarik bekerja di mancanegara karena gajinya tinggi dan jaminan kerjanya aman. Mereka biasanya dikontrak kerja minimal dua tahun.

"Kita menekan informal, kalau memang kita kirim formal itu gaji yang didapatkan lebih tinggi. Gajinya beda," tandasnya. (Sgh/Red)

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!