PATI, KawalJateng.com - Kondisi Sungai Mbango kian memprihatinkan karena pencemaran akibat limbah organik maupun non organik. Namun, aliran sungai yang melintasi Desa Bulumanis Lor, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati itu dipenuhi sampah industri dari pengolahan tapioka dan udang.
Menurut Kepala Desa (Kades) Bulumanis Lor, Kunarso, pencemaran aliran sungai memberi dampak buruk bagi pertanian dan perikanan. Mayoritas warga bermatapencaharian sebagai petani dan petambak.
"Keluh-kesah warga hasil pertanian kurang bagus, petani padi gagal panen karena limbah tersebut daunnya menguning sebelum padi menua. Petani tambak tampak ikannya langsung mati dan pertumbuhan ikan tidak bagus," ungkapnya kepada awak media, Sabtu, 15 Agustus 2026.
"Limbahnya dari pabrik besar Misaja (pengolah udang), tapioka. Luasan lahan ratusan hektar," imbuh Kades Bulumanis Lor.
Sampah-sampah menumpuk bagaikan gunung yang sulit ditembus oleh air. Kondisi ini semakin parah bila musim penghujan datang karena aliran air kotor meluap ke persawahan, tambak, hingga permukiman penduduk.
"Kalau hujan meskipun air deras dari pegunungan sampahnya tidak bisa sampai ke laut, tertahan di sini. Akhirnya menyumpal di aliran sungai. Airnya bercampur dengan limbah sehingga keluar (meluap) ke kanan-kiri, akhirnya pertanian dan tambak terdampak," ujarnya.
Ia menerangkan bahwa berkali-kali pertemuan dilakukan dengan berbagai unsur, termasuk para pelaku industri. Hanya saja belum ada eksekusi nyata dari pihak perusahaan yang memberi dampak tersebut.
"Dari kemarin sudah ada pertemuan berkali-kali, tinggal nanti nunggu hasilnya gimana pemerintah. Tinggal nanti eksekusi yang terdampak limbah tersebut," tuturnya.
Selama 35 tahun Desa Bulumanis Lor terkena pencemaran dari aliran Sungai Mbango. Mulai parah-parahnya sejak 2019 hingga sekarang.
Senada, Aliansi Warga Anti Limbah (AWALI) mendorong pemerintah bersikap tegas pada perusahaan yang tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pasalnya, mereka membuang limbah langsung ke sungai yang berdampak pada pencemaran, mengingat limbah dari perusahaan tersebut beracun.
Kholid, selaku aktivis AWALI mengungkapkan jika kondisi pencemaran sungai mengganggu kenyamanan masyarakat karena baunya sangat menyengat. Bahkan, ada warga yang terkena kanker akibat kontaminasi limbah dari udara.
"Kami dari AWALI mendapat kabar bahwa istrinya Kiai Liwa'udin kena kanker dampak dari aroma bau limbah. Pencemaran limbah beracun ini menguapkan gas beracun, bahkan bisa melekat di tubuh atau baju," tegasnya.
Pihaknya juga sudah melaporkan peristiwa ini ke Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Pihaknya berharap ada langkah yang nyata dalam menghilangkan pencemaran air Sungai Mbango.
"Kami sudah ke DLH, bahkan ke pusat kita laporan sampai KLH. Semoga eksekusinya terwujud," harapnya.
Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra telah menyusuri Sungai Mbango didampingi Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Pati, Riyoso dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati, Tulus Budiharjo. Ia berjalan hingga 500 meter di tepi sungai yang dipenuhi limbah.
Menurutnya percuma saja dikeruk karena hulu aliran Sungai Mbango tetap dicemari. Hal ini menyebabkan limbah padat dan limbah cair bertambah.
"Walaupun sudah ditangani sejak Juni-Juli tapi sampah sampai hari ini banyak lagi menumpuk. Walaupun kita keruk lagi sebulan, dua bulan akan begini lagi," katanya.
Chandra akan segera mengumpulkan para pengusaha tapioka supaya membuat IPAL sesuai standar.
"DLH akan kumpulkan pengusaha tapioka supaya mengolah limbah dengan IPAL-nya sebelum dibuang ke sungai. Intinya komitmen pengusaha tapioka tidak buang sampah, termasuk masyarakat. Banyak sekali masyarakat juga buang sampah di aliran sungai ini," jelasnya. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!