kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
2 September 2026
Logo Mobile
Kategori

Ikan Sapu-sapu di Bendungan Karet Pati Menumpuk

Ikan Sapu-sapu di Bendungan Karet Pati Menumpuk
Foto: Kondisi ikan sapu-sapu menumpuk di bendungan karet. (Singgih Tri/KawalJateng.com)

PATI, KawalJateng.com | Bendungan karet yang berada di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati surut selama musim kemarau. Bendungan yang dipergunakan untuk cadangan air bagi pertanian tersebut mulai mengering.

Kondisi itu pun memunculkan fenomena unik. Puluhan ribu ikan sapu-sapu muncul bagaikan tumpukan sampah. Ikan-ikan itu masih hidup dan menimbulkan bau menyengat.

Menurut warga setempat, Sulastri, ikan sapu-sapu muncul ke permukaan tanah setelah air di bendungan surut. Sejak sepekan, ikan-ikan ini mulai bermunculan.

Ia mengatakan bahwa surutnya bendungan karet sejak dua pekan terakhir. Hal itu dipicu tidak datangnya hujan sejak empat bulan ini.

"Dua minggu surut. Airnya dulu penuh, tapi dibuat petani pertanian habis, Mas. Kemarau ini empat bulanan nggak ada hujan," katanya kepada awak media, Rabu, 2 September 2026.

Semenjak debit air berkurang, ikan sapu-sapu diakuinya sudah mulai tampak ke permukaan air.

"Ikan sapu-sapu dulu ada sedikit, airnya kan masih ada. Ini sekarang surut sebanyak (ikan sapu-sapu) ini satu minggunan," ujarnya.

Menurut Sulastri surutnya bendungan karet membuat sawah-sawah kekeringan. Pasalnya, sawah yang butuh irigasi kini sudah kehilangan air pasokan.

"Airnya habis dan tidak bisa pengairan sawah timbul. Dampaknya bau-bau," ungkapnya.

Ia mengaku bahwa ikan sapu-sapu menjadi pengganggu ekosistem, maka dari itu warga seringkali menyetrum ikan. Meski begitu, ikan sapu-sapu dimanfaatkan warga untuk pakan ternak lele.

"Ikannya dulu kan disetrum, dibuang langsung mati, membusuk. Ikannya dimanfaatkan buat pakan lele," sebutnya.

Menanggapi pencemaran ikan sapu-sapu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, mengatakan bahwa muncul ancaman bagi ikan lokal. Terlebih, ikan lokal dimanfaatkan warga untuk kebutuhan konsumsi.

“Ikan sapu-sapu di sungai menjadi predator dan mengganggu populasi bagi benih ikan yang dapat dikonsumsi. Sehingga merugikan para nelayan di sepanjang Sungai Juwana (Silugonggo),” tuturnya saat ditemui di kantor oleh KawalJateng.com.

Diterangkan bahwa peningkatan populasi ikan sapu-sapu telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Jenis ikan tersebut juga memiliki kemampuan bertahan hidup cukup besar ketika kondisi perairan mengalami surut.

Persoalan tersebut semakin terlihat ketika debit Sungai Silugonggo menyusut. Sejumlah ikan ditemukan terdampar di bagian sungai yang mengalami pendangkalan dan penyusutan air, bahkan sebagian ditemukan dalam kondisi mati.

“Tentu saja dalam kondisi sungai kering saat ini ikan-ikan di sungai juga hilang atau mati dan nelayan tidak bisa mengambil ikan,” jelasnya.

Hadi mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian agar keseimbangan ekosistem Sungai Silugonggo tetap terjaga. Bagi nelayan, kondisi tersebut turut berdampak terhadap hasil tangkapan. Ketika sungai mengalami kekeringan, ikan semakin sulit ditemukan dan aktivitas penangkapan ikan ikut terganggu.

“Nelayan tidak bisa mengambil ikan,” tandasnya. (Sgh/Red)

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!