kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
2 Juli 2026
Logo Mobile
Kategori

Geger Pasca-Audiensi Air Macet: LSBH Teratai Tolak Mentah-Mentah dan Bagikan Uang Map Rp1 Juta dari PDAM Pati ke Warga

Geger Pasca-Audiensi Air Macet: LSBH Teratai Tolak Mentah-Mentah dan Bagikan Uang Map Rp1 Juta dari PDAM Pati ke Warga
Geger Pasca-Audiensi Air Macet: LSBH Teratai Tolak Mentah-Mentah dan Bagikan Uang Map Rp1 Juta dari PDAM Pati ke Warga

PATI, kawaljateng.com – Sebuah insiden mengejutkan mewarnai aksi unjuk rasa dan audiensi antara Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) bersama Lembaga Swadaya Bantuan Hukum (LSBH) Teratai di kantor Perumda Air Minum Tirta Bening (PDAM) Kabupaten Pati. Pasca-pertemuan formal selesai digelar, pihak LSBH Teratai membeberkan bahwa mereka disodorkan sebuah map oleh pihak PDAM Pati yang setelah dibuka di hadapan massa ternyata berisi uang tunai sebesar Rp1.000.000,00.

Pihak LSBH Teratai secara terbuka menyatakan menolak keras pemberian uang tersebut. Enggan membawa pulang dana transaksional itu, perwakilan lembaga memilih langsung membagikan uang tersebut di lokasi kepada warga dan bapak-bapak yang berada di sekitar area kantor yang dinilai jauh lebih membutuhkan.

"Kami tidak menerima uang ini dan menolak dengan keras. Kalau memang ada kelebihan uang di PDAM, seharusnya anggaran tersebut digunakan untuk membenahi alat-alat infrastruktur demi pemenuhan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat konsumen di Kabupaten Pati," pungkas perwakilan LSBH Teratai dengan nada kecewa.

Buntut Kekecewaan Ratusan Rumah Tangga Akibat Air Mati Total

Aksi penggerudukan kantor PDAM Pati ini sendiri dipicu oleh akumulasi kemarahan warga terkait buruknya pelayanan distribusi air bersih. Kuasa hukum warga, Dr. Nimerodi Gulo, S.H., M.H., mengungkapkan bahwa aliran air PDAM telah mati total (bablas) selama hampir tiga minggu hingga satu bulan terakhir di ratusan rumah warga.

Akibat dari krisis air ini, warga terpaksa harus ngansu (gotong royong mengambil air) dari masjid-masjid terdekat demi memenuhi kebutuhan mandi dan bersuci harian. Kondisi ini dinilai tidak adil karena warga selalu dituntut membayar tagihan tepat waktu, namun hak mereka atas pasokan air bersih justru diabaikan.

Melalui perwakilan AMPB Pati, Supriyono alias Botok, warga melayangkan somasi kedua dan menuntut empat poin evaluasi total, yakni penurunan tarif air, penghapusan denda keterlambatan 10% per bulan, penurunan biaya sambungan baru, serta sanksi tegas bagi internal PDAM jika kinerja tidak sesuai standar pelayanan. Jika masalah tidak selesai, warga mengancam akan membawa kasus ini ke ranah hukum menggunakan Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Tanggapan PDAM Pati: Saluran Tersumbat dan Kendala Listrik

Merespons gelombang protes dan somasi tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PDAM Kabupaten Pati, Pariman, memberikan klarifikasi teknis. Ia mengonfirmasi adanya gangguan aliran air yang disebabkan oleh penyumbatan pada jaringan pipa distribusi utama.

"Kami sudah mengupayakan perbaikan. Berdasarkan pemantauan tim teknis di lapangan, titik penyumbatan pada jaringan tersebut sudah berhasil ditemukan," kata Pariman.

Pariman menambahkan bahwa kendala ini diperparah oleh adanya pemadaman listrik di wilayah terdampak, seperti di Perumahan Winong, yang otomatis mengganggu optimalisasi operasional distribusi air. Atas dasar kendala tersebut, pihak PDAM berkomitmen penuh untuk menyelesaikan proses normalisasi pasokan air bersih secara menyeluruh dalam kurun waktu tiga hari ke depan. (Red)

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!