PATI, KAWALJATENG.COM — Proyek strategis nasional pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall (GSW) di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah dipastikan mulai memasuki tahap fisik pada awal 2027. Pemerintah menegaskan bahwa mega proyek ini tidak akan mengganggu akses maupun mobilitas nelayan lokal.
Proyek yang dirancang untuk membendung ancaman banjir rob dan abrasi hebat di Pantura ini justru mengintegrasikan teknologi pelindung pantai dengan rekayasa alur pelayaran. Langkah tersebut diambil agar keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir tetap terjaga.
Wakil Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jawa Tengah, Subaskoro, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan formula mitigasi agar aktivitas keluar-masuk kapal nelayan di muara sungai tidak lumpuh.
"Berdasarkan koordinasi dengan otoritas terkait, alur sungai aktif yang biasa dilalui nelayan kecil maupun besar akan diproteksi secara khusus," ujar Subaskoro saat dikonfirmasi media, baru-baru ini.
Rekayasa Muara dan Tanggul Beton 2 Kilometer
Salah satu poin krusial dalam rekayasa teknis ini adalah penanganan pendangkalan muara akibat sedimentasi yang selama ini menjadi keluhan utama para nelayan di Pantura.
Subaskoro menjelaskan, di setiap muara sungai yang aktif akan dibangun struktur pelindung khusus mengarah ke laut lepas.
"Nanti akan dibuatkan semacam tanggul beton sekitar 2 kilometer mengarah ke laut. Fungsinya untuk menahan sedimentasi, sehingga alur sungai muara di sepanjang Pantura Jateng tidak gampang dangkal dan kapal nelayan tidak rawan kandas," jelas pengusaha perikanan asal Kabupaten Pati tersebut.
Fokus Awal di Teluk Semarang dan Demak
Mengenai jadwal pelaksanaan, Subaskoro menyampaikan bahwa kepastian pengerjaan fisik diperoleh setelah berkoordinasi dengan Deputi 2 Giant Sea Wall Area Jateng-Jatim, Agus Adriyanto.
Jika sesuai rencana, pengerjaan fisik awal akan dimulai pada periode Januari hingga April 2027. Titik prioritas utama menyasar kawasan Teluk Semarang yang meliputi wilayah Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan Kabupaten Demak.
Wilayah Demak menjadi fokus paling awal mengingat tingkat keparahan genangan rob dan abrasi di daerah tersebut sudah mengikis kawasan permukiman serta ribuan hektar tambak warga.
Proteksi Berlapis dan Revitalisasi 14 Ribu Hektar Mangrove
Selain mengamankan akses perahu, proyek GSW mengusung konsep perlindungan pantai berlapis (layered protection) untuk memproteksi sektor perikanan budidaya:
Offshore Dike (Tanggul Laut): Memecah gelombang besar di lepas pantai.
Onshore Dike (Tanggul Pantai): Menahan air pasang langsung ke permukiman dan tambak.
Soft Dike (Sabuk Hijau): Revitalisasi hutan mangrove seluas 14.000 hektar di sepanjang pesisir Jateng hingga Jawa Timur.
Hutan mangrove ini diproyeksikan menjadi spawning ground (tempat pemijahan) alami bagi ikan dan udang, sekaligus penahan erosi pantai.
Di sisi lain, aliran anak sungai yang tidak dilalui perahu nelayan akan dialihkan ke danau retensi buatan. Proses desalinasi alami di danau ini diharapkan menghasilkan pasokan air tawar baku bagi kebutuhan domestik nelayan dan irigasi pertanian pesisir yang selama ini mengalami krisis air akibat intrusi air laut.
Subaskoro optimistis kehadiran Giant Sea Wall akan menjadi benteng penyelamat pesisir Jawa Tengah tanpa mengorbankan mata pencaharian warga.
"Proyek ini hadir untuk melindungi kampung nelayan dari bahaya tenggelam akibat penurunan tanah (land subsidence) dan kenaikan muka air laut. Harapan kita bersama, Pantura tetap aman, produktif, dan berkelanjutan untuk masa depan nelayan," pungkasnya. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!