kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
20 Juni 2026
Logo Mobile
Kategori

Kisah 'Pak Kijo Tani' Boyong Seni Emprak Rembang Memukau Ribuan Pengunjung di TMII Jakarta

Kisah 'Pak Kijo Tani' Boyong Seni Emprak Rembang Memukau Ribuan Pengunjung di TMII Jakarta
Foto: Dokumen istimewa / Redaksi kawaljateng.com

JAKARTA, KAWALJATENG.COM — Seni tradisional khas Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berhasil mencuri perhatian publik ibu kota. Melalui perhelatan akbar Gelar Seni Budaya Kabupaten Rembang yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Rembang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, lakon legendaris "Pak Kijo Tani" resmi dipentaskan secara langsung di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Minggu (17/5/2026).

Pertunjukan teatrikal rakyat yang berdurasi lebih dari 90 menit tersebut disajikan secara apik oleh tim kesenian Emprak dari Sanggar Wahyu Suko Budoyo, sebuah sanggar seni terkemuka asal Desa Kuangsan, Rembang. Penampilan memukau ini dihadiri langsung oleh Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, perwakilan Paguyuban Jawa Tengah, serta Himpunan Masyarakat Rembang yang merantau di kawasan Jabodetabek.

Niken Rahardina, S.IP., M.Si., selaku Kepala Sub Bidang Anjungan yang hadir mewakili Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas dedikasi para seniman Rembang dalam merawat warisan takbenda ini. Menurutnya, membawa kesenian daerah ke panggung nasional seperti TMII merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan kekayaan lokal kepada masyarakat luas sekaligus mengobati rasa rindu para perantau akan kampung halaman.

Filosofi dan Jenaka dalam Lakon Pak Kijo Tani

Lakon "Pak Kijo Tani" sendiri merupakan salah satu cerita pakem atau sejarah lisan dalam pertunjukan Emprak Kuangsan. Alur ceritanya menggambarkan secara mendalam perjalanan hidup Syaid Njambongan, seorang tokoh karismatik yang dikenal masyarakat sebagai pendakwah religius, pekerja keras, sekaligus figur sentral pendiri tradisi Emprak.

Kisah dimulai dari wilayah Kemadu, di mana Syaid Njambongan hidup harmonis bersama dua istrinya, Biang Sujinah dan Biang Sarjinah. Dari pernikahan dengan istri pertamanya, ia dikaruniai seorang putra bernama Kijo. Konflik dan petualangan batin dimulai saat Syaid berpamitan kepada kedua istrinya untuk mengembara mencari nafkah tanpa menyebutkan tujuan pastinya, dengan pesan penting agar dicari jika dalam waktu empat hingga lima bulan tidak kunjung kembali ke rumah.

Perjalanan nasib membawa Syaid ke Njangkungan untuk membuat perahu hingga akhirnya berpindah haluan menjadi petani di Kuangsan akibat terkendala musim baratan. Pertemuan yang dinanti justru berujung ricuh ketika kedua istrinya menyusul ke area persawahan. Di sanalah letak kekuatan seni Emprak, di mana konflik perebutan lahan pertanian dikemas secara jenaka lewat banyolan dan guyonan segar khas pesisiran tanpa menghilangkan esensi pesan moralnya.

Kemeriahan Kuliner Gratis dan Batik Lasem

Kemeriahan acara di TMII tidak hanya bertumpu pada panggung utama. Sejak pagi hari, eskalasi kemeriahan pra-acara sudah menggeliat di area Plaza Kori Agung Museum Indonesia TMII dengan penampilan energik dari Kesenian Thong Thongklek Purboyo. Rombongan kemudian melakukan arak-arakan budaya menuju Anjungan Jawa Tengah dengan mengendarai armada Pangling (Panggung Keliling).

Tidak tanggung-tanggung, panitia penyelenggara juga memanjakan para pengunjung umum dengan menyajikan hidangan kuliner khas Rembang secara gratis. Ribuan porsi Lontong Tuyuhan yang gurih dan Kopi Lelet yang pekat ludes dinikmati warga yang memadati area.

Di sudut lain, pameran produk UMKM Rembang yang memajang keindahan warisan dunia Batik Lasem serta aneka olahan camilan tradisional turut diserbu pembeli, menjadikannya sebuah ajang promosi budaya dan ekonomi kreatif daerah yang sangat sukses di tingkat nasional.

(KJ/Red)

Komentar Warga (0)

Tinggalkan Tanggapan

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!