REMBANG, kawaljateng.com – Ancaman fenomena iklim ekstrem "El Nino Godzilla" pada tahun 2026 membayangi sejumlah wilayah di Indonesia. Merespons peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang bergerak cepat memetakan zona merah kekeringan. Dari hasil evaluasi, Kecamatan Sedan kini ditetapkan sebagai titik kritis utama yang membutuhkan penanganan paling asimetris dan mendesak.
Berdasarkan data historis penanganan bencana tahun 2023 dan 2024, Kecamatan Sedan mencatatkan rekor wilayah dengan kebutuhan distribusi air bersih terbesar di Rembang, mencapai 1,017 juta liter. Karakteristik geografis Sedan yang didominasi area perbukitan membuat cadangan air tanah dalam menyusut drastis saat kemarau panjang, memicu krisis air bersih yang meluas dengan cepat.
Selain Sedan, BPBD juga menaruh perhatian khusus pada tiga kecamatan lain yang masuk dalam zona merah dengan tingkat kerawanan tinggi, yaitu Kecamatan Sulang, Sarang, dan Lasem. Secara akumulatif, berkaca pada dampak kemarau tahun 2024, terdapat sedikitnya 64 desa di Kabupaten Rembang yang menggantungkan hidupnya pada bantuan suplai (dropping) air bersih.
Ubah Strategi: Tinggalkan Cara Lama, Dorong Tandon Komunal
Menghadapi potensi El Nino Godzilla yang diprediksi jauh lebih merusak, Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi Hakim, menegaskan bahwa pola penanganan darurat yang bersifat reaktif seperti sekadar mengandalkan armada tangki saat warga mulai kelaparan air, tidak akan lagi cukup.
BPBD kini menginisiasi penyusunan Dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) Kekeringan dengan mengubah total strategi logistik di lapangan:
Audit dan Pendataan Aset Air: BPBD meminta data rinci hingga tingkat desa mengenai keberadaan sumur bantuan, embung, dan fasilitas Pamsimas yang bersumber air bagus.
Pembangunan Hub Distribusi Lokal: Di titik-titik sumber air produktif tersebut, pemerintah akan mendorong pembuatan tandon penampungan air komunal berkapasitas minimal 10.000 liter.
Pangkas Rantai Logistik: Melalui keberadaan tandon komunal ini, armada tangki tidak perlu lagi mengambil air dari pusat kota. Mereka cukup melakukan shuttle (bolak-balik) dari tandon lokal terdekat untuk didistribusikan ke wilayah sekitar, sehingga menghemat waktu dan biaya operasional secara signifikan.
Tantangan Nyata: Kekeringan ekstrem 2026 dipastikan akan melambungkan ritase pengiriman air. Komponen biaya operasional, terutama bahan bakar (BBM) armada tangki, diakui menjadi salah satu tantangan krusial yang harus diselesaikan dalam forum lintas sektor (Pentahelix).
Desakan Sinergi Lintas Sektor
Penanganan krisis di titik-titik kritis seperti Kecamatan Sedan dipastikan tidak dapat bertumpu pada pundak BPBD semata. Dokumen Renkon yang tengah digodok di Aula BPBD Rembang diharapkan mampu membagi habis peran sektor-sektor terkait.
Dinas Pertanian dan Pangan dituntut mengantisipasi risiko puso (gagal panen) demi menjaga ketahanan pangan, sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) berkewajiban mengawal kelayakan dan perlindungan sumber-sumber air dalam dari ancaman penyusutan ekstrem. Keterlibatan sektor swasta melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) juga terus didorong untuk memenuhi kebutuhan pengadaan tandon-tandon komunal di desa-desa terdampak. (kj/red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!