PATI, KAWALJATENG.COM – Sektor pariwisata di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menunjukkan tren positif yang signifikan sepanjang semester pertama tahun 2026. Berdasarkan data resmi Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati, angka kunjungan wisatawan ke Bumi Mina Tani sejak Januari hingga Juni 2026 berhasil menyentuh angka kumulatif 552.717 pengunjung.
Berdasarkan verifikasi data, grafik kunjungan bergerak fluktuatif namun menunjukkan lonjakan tajam pada momen-momen tertentu. Pada Januari, tercatat ada 86.597 kunjungan, yang kemudian sedikit menurun di bulan Februari menjadi 62.790 kunjungan. Angka ini kembali terdongkrak signifikan pada Maret dengan torehan 104.060 pengunjung karena terdorong momentum libur Lebaran.
Memasuki triwulan kedua, kunjungan di bulan April tercatat sebesar 70.695 orang, disusul Mei sebanyak 81.858 orang. Puncak kunjungan tertinggi sepanjang semester ini terjadi pada bulan Juni dengan angka mencapai 146.717 wisatawan.
Faktor Libur Sekolah dan Proteksi Kebijakan Lokal
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinporapar Kabupaten Pati, Mohamad Roni, menjelaskan bahwa lonjakan masif yang terjadi di bulan Juni sangat dipengaruhi oleh masa libur sekolah. Selain faktor kalender, Roni menggarisbawahi efektivitas kebijakan strategis dari Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati yang membatasi radius kegiatan luar sekolah.
“Kebijakan beliau (Plt Bupati Pati) terkait outing class di Pati saja. Dari pemantauan kami, kunjungan anak-anak beserta orang tua untuk tingkat kehadirannya jauh lebih baik daripada periode sebelumnya,” ujar Roni saat dikonfirmasi, Senin (13/7/2026).
Kebijakan lokal ini dinilai berhasil menahan laju pergerakan wisatawan domestik usia sekolah agar tetap membelanjakan modalnya di objek wisata lokal, baik dalam bentuk wisata edukasi maupun rekreasi keluarga.
Langkah Evaluasi: Dinporapar Identifikasi Objek Wisata Minim Performa
Kendati mencatatkan angka yang memuaskan, Pemerintah Kabupaten Pati tidak ingin cepat berpuas diri. Dinporapar saat ini tengah gencar melakukan pemetaan dan identifikasi terhadap sejumlah objek wisata yang performanya dinilai kurang maksimal atau mati suri.
Roni menyebutkan, sesuai dengan instruksi Kepala Dinporapar, pihaknya akan mendorong para pengelola daya tarik wisata (DTW) dan desa wisata untuk terus berbenah secara mandiri terlebih dahulu. Langkah ini diambil guna memastikan kualitas pelayanan dan daya tarik objek wisata dapat berkelanjutan.
“Kita diminta untuk diidentifikasi dengan baik. Nanti kita terus dorong, berikan imbauan, dan sebagainya. Kalau memang memungkinkan ke depan, juga mungkin akan kita usulkan stimulan untuk pengembangannya,” tambahnya.
Penyesuaian Efisiensi APBD 2026
Mengenai rencana pemberian stimulan anggaran untuk objek wisata yang kurang maksimal tersebut, pihak Dinporapar menegaskan akan tetap bersikap realistis dengan kondisi fiskal daerah. Rencana tersebut harus diselaraskan dengan tata kelola Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pati tahun anggaran 2026.
“Kita juga harus melihat kondisi APBD kita. Terkait dengan efisiensi ini, kami tetap berusaha memberikan dorongan-dorongan utama supaya pengelola (wisata) semakin berbenah agar perputaran ekonomi langsung berdampak pada warga setempat,” pungkas Roni. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!