kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
14 Oktober 2026
Logo Mobile
Kategori

Remang-Remang ‘Jalan Cinta’ Lasem: Rusak Parah, Rawan Laka, Hingga Jadi Sarang Balap Liar dan Mesum

Remang-Remang ‘Jalan Cinta’ Lasem: Rusak Parah, Rawan Laka, Hingga Jadi Sarang Balap Liar dan Mesum
Foto : Infrastruktur jalan poros desa yang menghubungkan Desa Dasun dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, dikeluhkan warga akibat kerusakan berat dan minimnya penerangan (Istimewa/Kawal Jateng)

REMBANG, kawaljateng.com — Infrastruktur jalan poros desa yang menghubungkan Desa Dasun dengan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, dikeluhkan warga akibat kerusakan berat dan minimnya penerangan. Ruas jalur alternatif yang kerap dijuluki warga setempat sebagai "Jalan Cinta" ini dinilai kian membahayakan para pengendara yang melintas, utamanya pada malam hari.

Selain kondisi aspal yang berlubang dan ambrol di sejumlah titik, ketiadaan fasilitas Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) membuat kawasan tersebut gelap gulita. Kondisi ini kerap disalahgunakan oleh segelintir oknum untuk melancarkan aksi balap liar, serta menjadi tempat nongkrong yang disinyalir memicu tindakan asusila di malam hari, khususnya menjelang akhir pekan.

Menyoroti persoalan krusial tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Rembang, Puji Santoso yang lebih akrab disapa Pujon, mendesak pemerintah daerah melalui dinas teknis terkait untuk segera mengambil langkah intervensi. Ia mengakui bahwa kondisi fisik infrastruktur di jalur penghubung tersebut sudah berada di ambang memprihatinkan dan membutuhkan penanganan darurat.

"Sebagian badan jalan itu ambrol dan rusak parah, sehingga memang butuh penanganan segera," kata Pujon saat dikonfirmasi, Rabu (14/10/2026).

Pujon mengungkapkan, saat dirinya masih bertugas di Komisi III yang membidangi infrastruktur, pihak legislatif sebenarnya telah mendorong pengadaan LPJU di sepanjang ruas jalan tersebut. Kendati demikian, Dinas Perhubungan (Dishub) baru mampu merealisasikan sekitar 10 titik penerangan akibat kendala ketiadaan jaringan tiang listrik dari PLN di jalur tengah.

"Dari Dishub hanya bisa memberi lampu sekitar 10 titik. Dari wilayah timur disambungkan tiang listrik hanya disetujui 5 titik, terus dari barat juga 5 titik. Jadi, yang bagian tengah-tengah itu masih gelap gulita," terangnya.

Absennya pencahayaan di jalur tengah inilah yang dinilai menjadi celah maraknya aktivitas negatif. Pujon menyebut, situasi gelap sering dimanfaatkan oknum remaja untuk trek-trekan atau balap liar, hingga lokasi nongkrong yang rentan disalahgunakan.

"Karena di situ gelap, sering digunakan anak-anak remaja buat trek-trekan. Selain itu juga kerap dijadikan ajang perbuatan asusila bagi pasangan yang senangnya nongkrong di tempat gelap. Tentu ini memberikan dampak sosial yang kurang baik," tegas politisi tersebut.

Sebagai solusi konkret atas kendala jaringan listrik PLN yang belum menjangkau kawasan itu, Pujon mendorong Dinas Perhubungan agar beralih pada pemanfaatan teknologi ramah lingkungan, yakni pengadaan LPJU berbasis solar cell atau panel surya.

"Kami berharap Dinas Perhubungan bisa mengusulkan penerangan jalan dengan sistem panel surya. Jadi, saat siang menyerap energi matahari, dan malam hari bisa menyala terang. Ini solusi paling efektif apabila jaringan listrik PLN belum tersedia," imbuhnya.

Di samping persoalan penerangan, pihaknya turut mendesak instansi berwenang agar segera menerjunkan tim teknis guna memperbaiki struktur jalan yang ambrol, menangani saluran air atau gorong-gorong yang rusak, serta melakukan penambalan jalan berlubang secara berkala.

"Pemerintah daerah harus sigap memberikan penanganan apabila infrastruktur itu membahayakan keselamatan pengendara. Segera perbaiki titik-titik yang ambrol dan benahi drainasenya agar tidak sampai menelan korban jiwa," pungkasnya. (yul/red)

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!