REMBANG, kawaljateng.com – Tingginya harga solar industri sempat melumpuhkan aktivitas perikanan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Ratusan kapal berukuran besar memilih bersandar di pelabuhan karena biaya operasional yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan. Namun, Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang memastikan situasi perlahan mulai mengurai.
Sekretaris Dinlutkan Rembang, Nurida Andante, menegaskan bahwa fenomena mogoknya ratusan nelayan belakangan ini murni dipicu oleh faktor ekonomi, bukan kendala alam.
"Nelayan tidak melaut ini bukan karena ombak besar atau faktor cuaca, melainkan murni karena tingginya harga solar industri," ujar Nurida saat memberikan keterangan terkait situasi di Pelabuhan Perikanan Tasikagung, Rembang.
Menurut Nurida, mayoritas kapal yang mogok merupakan kapal di atas 30 Gross Ton (GT). Berdasarkan regulasi, kapal-kapal dalam kategori ini dilarang keras menggunakan solar bersubsidi dan diwajibkan membeli solar industri non-subsidi, yang harganya sempat melambung tinggi hingga mencekik kantong para pemilik kapal.
Angin Segar dari Kerja Sama Supplier
Meski sempat mengalami masa-masa sulit, Nurida membawa kabar baik bahwa roda perekonomian nelayan Rembang kini mulai bergerak kembali. Intervensi dinas dan kerja sama dengan sektor swasta mulai membuahkan hasil.
Ia menyampaikan bahwa kondisi di lapangan saat ini sudah jauh membaik dibandingkan beberapa pekan lalu. Hal ini terjadi setelah adanya kesepakatan kerja sama dengan pihak supplier BBM, yakni PT Indah Raya Santosa.
"Kondisi saat ini sudah mulai membaik berkat adanya kerja sama dengan pihak supplier. Mereka memfasilitasi pasokan BBM non-subsidi khusus bagi para nelayan dengan harga Rp14.700 per liter," jelas Nurida.
Penurunan harga ke angka Rp14.700 per liter tersebut menjadi stimulus penting bagi para pemilik kapal untuk kembali menghidupkan mesin mereka. Nurida mengonfirmasi bahwa dampak dari kebijakan ini sudah mulai terlihat nyata di dermaga.
"Dengan adanya harga khusus tersebut, saat ini terpantau sudah ada beberapa kapal nelayan yang mulai berangkat melaut kembali secara bertahap," tambahnya.
Menanti Keputusan Pemerintah Pusat
Kendati pasokan BBM dengan harga khusus ini menjadi solusi jangka pendek yang efektif, Nurida menyebutkan bahwa para nelayan masih dihantui ketidakpastian regulasi jangka panjang. Kerja sama dengan supplier swasta bersifat lokal, sementara nelayan membutuhkan stabilitas harga yang menyeluruh.
Oleh karena itu, pihak dinas bersama elemen nelayan masih terus memantau pergerakan kebijakan dari Jakarta. Nurida menambahkan bahwa perwakilan dan paguyuban nelayan setempat saat ini masih menunggu keputusan atau kebijakan resmi dari pemerintah pusat mengenai regulasi harga solar khusus yang ramah bagi industri perikanan rakyat.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas di Pelabuhan Tasikagung dilaporkan mulai berdenyut kembali, meski volume kapal yang berangkat belum sepenuhnya normal seperti sedia kala. ( Adhi/Red )
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!