KAWALJATENG.COM, PATI – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pati terus berkomitmen memaksimalkan perawatan sarana dan prasarana di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Pemeliharaan di area taman kota, hutan kota, hingga jalur hijau jalan rutin dilakukan petugas setiap hari demi kenyamanan masyarakat.
Namun, upaya tersebut kerap terbentur oleh minimnya kepedulian sebagian oknum masyarakat dalam menjaga fasilitas publik. Banyaknya temuan fasilitas yang rusak di lapangan memicu keprihatinan dari pihak otoritas lingkungan setempat.
Kepala Bidang (Kabid) Kebersihan, Persampahan, dan Pertamanan DLH Kabupaten Pati, Henri Setiawan, mengungkapkan bahwa area Alun-Alun Simpang Lima Pati menjadi salah satu lokasi yang paling sering mengalami kerusakan fasilitas akibat tangan-tangan jahil.
"Kami memiliki beberapa catatan terkait penggunaan taman maupun hutan kota oleh masyarakat. Alun-Alun Pati adalah salah satu area publik utama kita. Selain membuang sampah pada tempatnya, kami sangat berharap fasilitas di sana bisa dijaga bersama, terutama keran air yang sering kali kami temukan patah dan harus diganti," ujar Henri, Jumat (10/7/2026).
Henri menambahkan, rusaknya fasilitas saluran air bersih ini berimbas langsung pada kenyamanan pengunjung lain. Akibat keran yang patah, warga yang hendak beraktivitas menjadi kesulitan untuk sekadar mencuci tangan.
"Di Alun-Alun sistemnya langsung menggunakan pompa saat penyiraman karena belum ada toren penampungan. Dampaknya, kalau fasilitas keran itu dirusak atau patah, pengunjung lain jadi tidak bisa cuci tangan. Kasus keran patah ini sering sekali terjadi," jelasnya.
Tak hanya keran air, fasilitas penyiram rumput otomatis (sprinkler) yang menjadi ikon kebanggaan Alun-Alun Pati juga tidak luput dari aksi vandalisme. Padahal, fasilitas modern tersebut berfungsi menjaga kelembapan permukaan rumput agar kawasan alun-alun tetap hijau, sejuk, dan asri.
Mirisnya, beberapa oknum pengunjung kerap memainkan alat tersebut secara tidak bijak, bahkan merusaknya.
"Penyiram otomatis (sprinkler) di alun-alun juga mengalami nasib serupa. Padahal alat ini bekerja secara periodik untuk menyiram rumput dan menjadi ikon yang belum tentu ada di daerah tetangga seperti Kudus atau Rembang. Tapi di lapangan, terkadang alat ini dirusak, ditendang, atau diputar paksa," sesal Henri.
Menyikapi fenomena ini, DLH Kabupaten Pati mendesak masyarakat untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap fasilitas publik yang dibiayai oleh uang daerah tersebut. Terlebih, anggaran daerah untuk pemeliharaan saat ini terbilang terbatas.
"Harapannya, fasilitas ini bisa dijaga bersama, terlebih dengan adanya keterbatasan anggaran pemeliharaan yang kita miliki saat ini," pungkas Henri. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!