PATI, kawaljateng.com – Dunia seni teater telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup Nanda Lutfiyah (22), mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) Pati. Berbekal kecintaan terhadap seni peran sejak usia dini, perempuan asal Kabupaten Pati ini kini dikenal sebagai aktor, sutradara, sekaligus pelatih di sejumlah komunitas teater.
Ketertarikan Nanda terhadap seni teater berawal sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia kerap mengikuti lomba monolog yang menjadi pintu masuk mengenal dunia seni pertunjukan. Minat tersebut semakin berkembang ketika menempuh pendidikan di pondok pesantren di Jombang dan bergabung dalam ekstrakurikuler teater.
"Sejak SMP saya mulai serius menekuni teater. Di Teater Islam Darussalam (Trisda), saya banyak belajar dasar-dasar teater hingga benar-benar memahami dunia seni pertunjukan," ujar Nanda kepada KawalJateng.com, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, teater bukan sekadar seni pementasan di atas panggung, melainkan ruang pembelajaran untuk mengenal karakter diri, memahami orang lain, sekaligus memaknai kehidupan. Melalui proses olah rasa, olah tubuh, dan olah vokal, ia mengaku memperoleh banyak pengalaman yang membentuk cara berpikirnya.
Selain aktif menyelesaikan kuliah semester akhir di IPMAFA, Nanda juga terus berkarya di berbagai komunitas teater. Ia pernah menjadi aktor di Teater Islam Darussalam (Trisda), Teater Suryopati, Teater Minatani, hingga Teater Lumpang.
Saat ini, Nanda dipercaya memimpin Teater Suryopati sebagai ketua sekaligus sutradara dan pelatih. Ia juga aktif menjadi pelatih seni teater di Teater Minatani, sembari tetap terlibat sebagai aktor dan penata rias dalam berbagai pementasan.
Bagi Nanda, dunia teater memiliki cakupan yang sangat luas. Selain kemampuan berakting, seorang pegiat teater juga dituntut memahami dramaturgi, tata artistik, penulisan naskah, puisi, hingga tata rias panggung. Beragam aspek tersebut menjadi kekayaan yang membuatnya terus bertahan di dunia seni.
Meski demikian, ia mengakui perkembangan zaman menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku seni teater. Menurutnya, kelompok teater harus mampu beradaptasi dengan selera masyarakat tanpa kehilangan nilai artistik dan gagasan yang menjadi ruh sebuah pertunjukan.
"Tantangannya bagaimana membuat pertunjukan tetap menarik bagi masyarakat tanpa menghilangkan unsur seni dan pesan yang ingin disampaikan. Kami ingin penonton menikmati sekaligus memahami gagasan yang kami bawa," katanya.
Di tengah kesibukannya berkarya, Nanda juga aktif membimbing generasi muda agar mengenal dan mencintai seni teater. Baginya, regenerasi menjadi langkah penting agar seni pertunjukan tetap hidup dan berkembang di tengah derasnya arus hiburan modern.
Perjalanan Nanda di dunia seni juga tidak lepas dari sosok Bambang Sugiarto, seniman sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang merupakan pamannya. Sosok tersebut menjadi inspirasi sekaligus motivasi bagi Nanda untuk terus berkarya secara mandiri dan konsisten di jalur kesenian.
Ia berharap semakin banyak anak muda yang berani mengenal dunia teater, karena seni pertunjukan bukan hanya tentang tampil di atas panggung, tetapi juga tentang membangun kepekaan, kreativitas, serta memahami kehidupan dari berbagai sudut pandang. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!