BLORA, kawaljateng.com – Langkah nyata menuju ketahanan pangan dan kemandirian energi di Jawa Tengah terus menunjukkan progres signifikan. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) melalui Kantor Pertanahan Kabupaten Blora resmi menyalurkan uang ganti rugi (UGR) senilai Rp173,8 miliar kepada warga terdampak pembangunan Bendungan Cabean di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.
Hingga akhir Juni 2026, pembayaran kompensasi telah sukses dicairkan kepada pemilik 352 bidang tanah dari total 395 bidang yang berhak. Dari sisa lahan yang ada, dua bidang saat ini masih dalam proses penyelesaian administratif, sementara 41 bidang lainnya dipastikan tidak menerima ganti rugi karena berstatus sebagai tanah negara.
Kepala Subbagian Tata Usaha Kantor Pertanahan Kabupaten Blora, Elvyn Bina Eka Kusuma, memastikan seluruh tahapan pembebasan lahan ini berjalan tanpa kendala berarti berkat komitmen transparansi yang kuat di lapangan.
"Proses pengadaan tanah kami lakukan secara bertahap, transparan, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Dalam pelaksanaannya, tim di lapangan juga mendapatkan pendampingan ketat dari pihak perbankan serta tim teknis," ujar Elvyn.
Di saat yang sama, Kantor Pertanahan Blora juga bergerak simultan menyiapkan megaproyek air lainnya. Proyek pembangunan Bendungan Karangnongko di Kecamatan Kradenan, yang masuk dalam daftar Program Strategis Nasional (PSN), kini mulai memasuki tahapan krusial berupa inventarisasi dan verifikasi terhadap 1.037 bidang tanah terdampak.
Kementerian PU Genjot Konstruksi Fisik
Seiring dengan tuntasnya mayoritas pembebasan lahan di Kecamatan Todanan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) langsung tancap gas mempercepat konstruksi Bendungan Cabean. Infrastruktur ini dirancang secara khusus untuk menjadi solusi permanen atas masalah kekeringan ekstrem yang kerap melanda Blora saat kemarau, sekaligus berfungsi sebagai pengendali banjir saat musim penghujan tiba.
Secara teknis, Bendungan Cabean dibangun dengan tipe Urugan Zonal Random Tanah. Bendungan ini memiliki tinggi 24 meter dengan panjang puncak mencapai 318 meter. Memanfaatkan aliran dari Sungai Galuk, bendungan ini diproyeksikan mampu menampung volume air hingga 2,58 juta meter kubik.
Tidak hanya fokus pada manajemen air, area genangan Bendungan Cabean juga dipersiapkan untuk mendukung sektor energi terbarukan melalui rencana pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung berkapasitas 10 megawatt.
Dampak Nyata bagi Petani dan Kebutuhan Air Bersih
Hadirnya Bendungan Cabean dipastikan akan membawa perubahan besar bagi produktivitas dan kualitas hidup masyarakat di dua kabupaten, yakni Blora dan Pati.
Berikut adalah tiga dampak utama dari rampungnya Bendungan Cabean:
Modernisasi Sektor Pertanian: Air dari bendungan akan mengalir ke 80 hektar lahan di Daerah Irigasi (DI) Karanganyar dengan sistem teknis modern. Hal ini memungkinkan petani mengubah pola tanam menjadi padi – padi – palawija dalam setahun, sehingga intensitas dan hasil panen melonjak optimal.
Penyediaan Air Baku Skala Besar: Bendungan ini siap memasok air baku sebesar 127 liter per detik. Pasokan ini diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan air bersih harian bagi 154 ribu jiwa di wilayah Kabupaten Blora dan Kabupaten Pati.
Peluang Ekonomi Baru: Selain fungsi primer untuk irigasi dan air bersih, lanskap bendungan yang tertata memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata air baru guna mendongkrak ekonomi kreatif warga lokal.
Melalui integrasi pengadaan lahan yang bersih serta percepatan pembangunan fisik oleh Kementerian PU, Bendungan Cabean dan Bendungan Karangnongko diharapkan segera beroperasi penuh demi memperkuat ketahanan pangan, mengoptimalkan tata kelola air, dan menggerakkan roda ekonomi di regional Jawa Tengah. (Red/KJ)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!