PATI, kawaljateng.com — Bendung Karet di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, kembali mengalami kebocoran. Akibatnya, ribuan hektar lahan pertanian di sepanjang aliran Sungai Silugonggo (Sungai Juwana) terancam mengalami kekeringan pada Musim Tanam (MT) 3.
Sejak mulai beroperasi dua tahun lalu, bendungan yang dibangun menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp260 miliar tersebut tercatat sudah dua kali mengalami kebocoran. Kondisi ini memicu keprihatinan mengingat fungsi utamanya sebagai penopang irigasi pertanian daerah.
Ketua Serikat Petani Pati (SPP), Kamelan, menjelaskan bahwa Bendung Karet berfungsi menahan laju air agar debitnya dapat dimanfaatkan untuk pengairan sawah. Saat terjadi kebocoran, air sungai akan mengalir terbuang ke laut sehingga permukaan air surut dengan cepat.
"Bocornya bendung karet membuat air di sungai langsung mengalir ke laut tanpa penghalang. Akibatnya, pasokan air yang ada di sungai perlahan habis," ujar Kamelan saat meninjau lokasi Bendung Karet, Selasa (21/7/2026).
Kamelan menegaskan, jika kerusakan tidak segera ditangani, ribuan hektar tanaman padi terancam puso (gagal panen). Pasalnya, pada musim kemarau saat ini, petani sepenuhnya menggantungkan pasokan irigasi dari air sungai.
"Di sepanjang Sungai Juwana ini ada ribuan hektar tanaman padi yang butuh pengairan. Karena kemarau dan hujan sulit turun, satu-satunya sumber air ya dari Sungai Juwana," jelasnya.
Selain memicu kekeringan, kebocoran bendungan juga membuat intrusi air laut tidak tertahan. Air asin yang masuk ke badan sungai dipastikan merusak kualitas air irigasi tanaman padi.
"Kalau air laut naik dan bercampur, jelas tidak bisa dipakai untuk menyiram tanaman padi," tambahnya.
Saat ini, para petani di sepanjang aliran Sungai Silugonggo sedang menjalani awal MT 3, dengan usia tanaman padi berkisar antara 0 hingga 40 hari. Pada fase pertumbuhan awal ini, kebutuhan air tanaman sedang berada pada tingkat tertinggi.
"Di kawasan aliran Sungai Juwana, kondisinya bervariasi mulai dari persemaian hingga tanaman berumur 40 hari. Artinya, petani masih membutuhkan pasokan air hingga empat bulan ke depan," terangnya.
Ia mengkalkulasikan, jika terjadi gagal panen total akibat krisis air, nilai kerugian ekonomi petani bisa menembus puluhan miliar rupiah.
"Dengan harga gabah saat ini, potensi hasil panen per hektar bisa mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta. Sementara biaya produksi per hektar sekitar Rp25 juta, dan untuk tanaman usia 40 hari, petani sudah mengeluarkan sekitar 50 persen dari modal tersebut," beber Kamelan.
Ia berharap instansi terkait segera mengambil langkah cepat untuk membenahi kebocoran Bendung Karet Bungasrejo agar pasokan air pertanian kembali normal.
Di sisi lain, Juru Bicara Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti, mendesak adanya evaluasi menyeluruh atas berulangnya kasus kebocoran ini. Evaluasi mencakup mutu konstruksi, kualitas material karet, hingga manajemen tata kelola debit air.
"Manajemen pengelolaannya harus diperbaiki. Beberapa pekan lalu saat bendung ditutup, luapan air tampak sangat besar. Tekanan air seharusnya diperhitungkan secara presisi sesuai kapasitas kekuatan karet bendung," tegas Ari. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!