PATI, KawalJateng.com - Musim kemarau mulai berada di puncak. Suhu semakin tinggi akibat kemarau yang melanda di Indonesia termasuk di Kabupaten Pati. Beberapa daerah di Pantai Utara (Pantura) bagian timur mengalami kekeringan.
Sebagai informasi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati telah mengantisipasi adanya kekeringan ini. Hasil rapat koordinasi (rakor) itu memproyeksi Agustus sampai Oktober 2026 sebagai puncak kemarau di Kabupaten Pati.
"Pada 31 Juli kemarin, Plt Bupati sudah melaksanakan rakor untuk mendengarkan saran dan memberi masukan OPD teknis berkaitan kekeringan seperti Dinas Pertanian, BBWS, dan OPD teknis lainnya, bahwa puncak kemarau di Pati diperkirakan Agustus, September, Oktober, bahkan ada kemungkinan sampai November-Desember baru akan turun hujan. Pantura bagian timur paling akhir
menerima hujan, mulai dari Kudus, Pati, Jepara, Rembang turun hujan paling akhir setelah daerah lain," papar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya saat ditemui KawalJateng.com, Jumat, 28 Agustus 2026.
Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Pati mulai menyiapkan langkah untuk mengantisipasi kekeringan dengan langkah dropping air bersih. Armada sudah dipersiapkan mendistribusikan air bersih di wilayah terdampak kekeringan.
"Plt Bupati memerintahkan posko penanganan kekeringan dan kebakaran hutan di halaman Kantor BPBD bersama institusi kepolisian, TNI, PMI, BBWS akan memberikan bantuan berupa peralatan tangki di bawah komando BPBD. Sudah disampaikan Pak Plt kita harus antisipasi kemarau hingga awal Desember," sebutnya.
Sejak 1 Agustus 2026, BPBD Kabupaten Pati menyalurkan air bersih ke berbagai wilayah mulai di Kecamatan Gabus, Jakenan, Jaken, Pucakwangi, Sukolilo, dan Tambakromo. BPBD Kabupaten Pati telah menyalurkan air bersih di 12 desa.
"Sejak 1 Agustus atas nama pemda dropping air bersih sampai hari ini yang sudah kita atensi ada 12 desa di Tambakromo, Jakenan, Jaken, Pucakwangi, Gabus, Sukolilo. Sampai hari ini sudah 24 tangki dengan kapasitas 5.000 liter per tangki," paparnya.
Lebih lanjut, September nanti akan lebih gencar lagi pendistribusiannya. BPBD Kabupaten Pati menarget 10 sampai 12 tangki per hari siaga untuk masyarakat terdampak kekeringan.
"Berikutnya di September-Oktober akan semakin kering dan semua yang dilanda kekeringan termasuk persawahan, maka kita rencanakan setiap hari antara 10 sampai 12 tangki terus beroperasi membantu masyarakat desa yang membutuhkan air bersih. Plt Bupati juga memerintahkan kami mengajukan permohonan BTT mendukung giat air bersih," tuturnya.
BPBD Kabupaten Pati menyediakan 3 armada sendiri dan 1 armada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng). Pihaknya juga mengajukan bantuan armada Batalyon Teritorial Pembangunan (TP) Jateng. Kemudian, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pati juga diajak berkolaborasi.
"Yang kami siapkan BPBD 3 armada, kita dapat bantuan 1 unit dari Balai Pengembangan Wilayah Jateng. Kemudian, kami mengupayakan bantuan unit dari BBWS Bendungan Klambu satu atau dua kita pinjam. Dari Batalyon TP juga ada unit yang kita ajukan, pihak-pihak lain di Polresta Pati juga," ungkapnya.
Pihak donatur diajak untuk membantu pemenuhan air bersih di titik-titik berisiko kekeringan. Pemkab Pati optimis bisa mengatasi kekeringan di musim kemarau ini.
"Kita optimis karena sudah sering kekeringan di kemarau. Sinergi jajaran kepolisian, TNI, pihak donatur sudah sangat terjalin erat supaya masyarakat yang butuh air bersih terlayani operasi bantuan pemenuhan kebutuhan dasar air bersih," pungkasnya. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!