PATI, KawalJateng.com - Longsoran tanah di tepi Sungai Silugonggo terjadi di Dukuh Sampang, Desa Tondomulyo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati sejak Rabu, 19 Agustus 2026 malam. Dampaknya sampai saat ini mengkhawatirkan penduduk setempat karena longsoran itu membuat tebing pembatas antara permukiman dan sungai hancur.
Menurut warga setempat, Sukardi, longsoran itu akibat surutnya air pada Sungai Silugonggo. Mengakibatkan punden leluhur desa hancur dan tempat pengairan petani hancur juga.
"Sejak Sabtu ini longsornya, kalau amblasnya sedikit demi sedikit sejak Rabu, ini lebih parah. Longsoran karena air habis, tidak ada keseimbangan. Yang rusak parah punden, terus tempat pompa air, tembok juga," ungkap warga RT 03/RW 02 kepada awak media, Jumat, 28 Agustus 2026.
Keretakan tanah ini menyebabkan sektor pertanian tersendat. Apalagi musim tanam ini kekurangan air irigasi.
"Longsoran pasti pertanian tersendat. Sawah udah saatnya bercocok tanam nggak bisa ngasih air, itu dampak terparah," katanya.
Ia berharap pemerintah membuka mata untuk segera memperbaiki kerusakan longsoran tebing tepi Sungai Silugonggo yang maksud. Pasalnya, masyarakat setempat tidak memiliki dana untuk swadaya, dan pihak pemborong belum juga turun tangan.
"Harapannya minta bantuan pemerintah supaya ini dibangun lagi, diuruk lagi seperti dulu, kami berharap 100 persen dibangun pemerintah. Kalau dibangun swadaya ndak mampu," jelasnya.
Selain dirinya, warga lain, Warno meminta pemborong ganti rugi atas keretakan tanah ini. Longsoran sudah mencapai 100 meter dengan kedalaman lebih dari 1 meter.
"Ini sekitar ada 100 meter, dalam 1 meter lebih. Harapannya ganti rugi kalau bisa, kewenangannya pemerintah dan pemborong dari Semarang," urainya.
Ia khawatir karena longsoran ini berdekatan dengan permukiman. Ada 150 rumah di Dukuh Sampang terancam akibat tanah longsor ini, terlebih di atas tanah longsor itu ada jembatan fly over.
"Khawatir. Ada 150 rumah," tandas Warno. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!