PATI, KawalJateng.com - Sekolah Rakyat Terintegrasi I Tlogowungu, Kabupaten Pati masih mendalami insiden dugaan kekerasan yang melibatkan sejumlah siswa hingga menyebabkan seorang siswa kelas X mengalami luka.
Pihak sekolah memastikan tidak membenarkan tindakan tersebut dan kini melakukan pendalaman untuk mengetahui kronologi serta peran masing-masing siswa.
Insiden tersebut terjadi pada Selasa malam, 29 September 2026, seusai makan malam menjelang salat Isya.
Korban berinisial D dilaporkan mengalami luka dan kemudian mendapat pemeriksaan medis.
Wakil Kepala (Waka) Kesiswaan Sekolah Rakyat Kabupaten Pati, Fachrudin Dwi Saputro mengatakan, pihak sekolah mengetahui kejadian setelah mendapat laporan dari siswa.
Wali yang bertugas kemudian mendatangi lokasi dan mendapati kejadian telah dilerai oleh siswa lainnya.
“Untuk berita yang sedang viral saat ini, kami sedang mendalaminya bersama tim guru, wali asuh dan wali asrama. Apa pun alasan dan latar belakangnya, kami tidak membenarkan tindakan tersebut,” kata Fachrudin saat ditemui di Sekolah Rakyat Tlogowungu, Kamis, 8 Oktober 2026.
Setelah kejadian, korban sempat diajak untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Namun, korban saat itu memilih beristirahat.
Pihak sekolah kemudian memisahkan kamar korban dari lingkungan pengasuhan dan tetap melakukan pemantauan.
Keesokan harinya, kondisi korban dinilai memerlukan pemeriksaan medis. Korban kemudian dibawa ke IGD untuk mendapatkan penanganan.
“Setelah dirontgen, dari dokter area dada dan leher aman. Hanya ada luka sedikit di bagian gusi. Dinyatakan boleh pulang atau rawat jalan dan diberikan rujukan ke dokter gigi,” jelasnya.
Saat ini korban berada di rumah untuk menjalani perawatan. Pihak sekolah menyatakan telah menawarkan agar korban dirawat di sekolah, tetapi keluarga memilih melakukan perawatan di rumah.
Fachrudin mengatakan, sekolah juga masih mendalami jumlah dan peran siswa yang terlibat.
Sebab, berdasarkan informasi awal, terdapat siswa yang berupaya memisahkan, sementara lainnya hanya berada di lokasi.
“Jadi kami belum memastikan jumlahnya secara pasti,” bebernya.
Terkait keberlanjutan pendidikan korban, pihak sekolah mengaku telah melakukan pendekatan secara persuasif.
Dalam komunikasi awal, korban menyatakan masih ingin melanjutkan sekolah di Sekolah Rakyat dan mengaku tidak takut kembali bertemu teman-temannya.
Sekolah juga telah melakukan mediasi antara keluarga korban dan keluarga siswa yang diduga terlibat.
Namun, proses tersebut belum menghasilkan penyelesaian dan direncanakan ada mediasi lanjutan.
Sekolah Rakyat Tlogowungu saat ini menampung sekitar 320 siswa dari jenjang SD hingga SMA dengan sekitar 150 tenaga pendidik dan pendamping.
“Kami butuh tenaga ekstra untuk mendidik dan membimbing mereka, sehingga menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman,” katanya.
Pengawasan dilakukan melalui kamera CCTV di area gedung, sementara kamar siswa tidak dipasangi kamera karena merupakan area privasi.
Sementara itu, keluarga korban telah membawa persoalan tersebut ke jalur hukum dengan membuat pengaduan ke Polresta Pati.
Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian masih melakukan konfirmasi terkait laporan tersebut. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!