PATI, kawaljateng.com – Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027 pada Senin, 13 Juli 2026, aktivitas berburu seragam sekolah di Kabupaten Pati mulai meningkat. Orang tua dan siswa memanfaatkan momen ini untuk membeli seragam baru, baik karena naik jenjang pendidikan maupun mengganti pakaian yang lama.
Kondisi tersebut membawa berkah bagi para penjahit rumahan. Mereka kebanjiran pesanan untuk merancang setelan baju sekolah, mulai dari seragam Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), batik identitas, seragam lapangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hingga seragam Pramuka.
Geliat ini salah satunya dirasakan oleh Meyda Dewi Trisbiani, pelaku usaha busana asal Perumahan Rendole Indah, Desa Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati.
Meyda mengaku sejak Mei lalu hingga hari ini, permintaan pembuatan baju sekolah terus mengalir. Setiap pelanggan rata-rata langsung memesan empat setel baju menjelang hari pertama masuk sekolah.
"Sejak Mei sampai sekarang pesanan baju seragam sangat banyak karena menjelang masuk sekolah. Pesanan mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA, hingga SMK. Yang dijahitkan ada seragam OSIS, batik, seragam kejuruan, dan Pramuka," ujar Meyda kepada KawalJateng.com, Sabtu, 11 Juli 2026.
Bagi Meyda, datangnya tahun ajaran baru menjadi momen yang mendatangkan keuntungan lipat. Ia mengungkapkan, permintaan pembuatan seragam sekolah tahun ini mengalami peningkatan sekitar 30 persen dibandingkan hari biasa.
Dalam kurun waktu satu pekan, Meyda mampu menerima sekitar 40 setel pesanan seragam sekolah. Secara keseluruhan, sejak Mei hingga Juli ini, total pesanan yang diterimanya sudah mencapai sekitar 200 setel.
Untuk menyelesaikan seluruh pesanan tersebut, Meyda membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Oleh karena itu, ia menyarankan para pelanggan untuk memesan sejak jauh hari agar proses pengerjaan selesai tepat waktu.
"Setiap minggu ada sekitar 40 setel pesanan seragam. Kalau ditotal secara keseluruhan pada musim tahun ajaran baru ini sudah mencapai 200 setel seragam," sebut pemilik lini busana Meyda Trisbiani Couture tersebut.
Sebagai informasi, harga baju sekolah rancangannya dibanderol mulai dari Rp100.000 hingga Rp150.000 per setel. Pelanggan memilih jasanya karena kualitas jahitan yang rapi, desain yang elegan, serta bahan yang nyaman dipakai anak-anak.
Dari hasil penjualan baju sekolah ini, Meyda bisa mengantongi omzet hingga Rp10 juta per pekan pada puncak musim masuk sekolah. Jika dikalkulasikan dengan pesanan pakaian lainnya seperti kebaya, ia mampu meraup total omzet hingga Rp25 juta per minggu.
"Total omzet bisa mencapai Rp25 juta per minggu karena dibarengi dengan produksi busana lain termasuk kebaya. Sementara untuk omzet dari pesanan seragam sekolah sendiri menyumbang sekitar Rp10 juta per minggu," ungkapnya.
Kendati kebanjiran rezeki, Meyda mengaku harus ekstra teliti dalam menggarap baju sekolah karena pakaian tersebut merupakan identitas formal. Terlebih, setiap satuan pendidikan memiliki standar dan model seragam yang berbeda-beda.
"Tantangannya ada pada waktu yang terbatas, karena hari pertama masuk sekolah dilakukan serentak dan pakaiannya harus sudah siap. Selain itu, merancang baju sekolah juga harus lebih teliti karena setiap sekolah mempunyai model dan aturan seragam yang berbeda," pungkasnya. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!