kawaljateng.com - Mengawal Informasi Jawa Tengah
5 Juni 2026
Logo Mobile
Kategori

Sempat Lumpuh Total, Nelayan Tasikagung Rembang Mulai Kembali Melaut Usai Dapat Suplai Solar Rp14.700

Sempat Lumpuh Total, Nelayan Tasikagung Rembang Mulai Kembali Melaut Usai Dapat Suplai Solar Rp14.700

REMBANG, kawaljateng.com — Aktivitas perekonomian di Pelabuhan Perikanan Tasikagung, Kabupaten Rembang sempat lumpuh total selama hampir satu bulan terakhir. Ratusan kapal nelayan berukuran besar memilih mogok melaut akibat meroketnya harga solar industri. Namun kini, urat nadi pelabuhan terbesar di Rembang tersebut dilaporkan mulai kembali berdenyut.

Pantauan di lokasi menunjukkan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang biasanya riuh sempat kosong melompong. Dampak domino dari mogok massal ini juga memukul sektor UMKM pesisir; belasan warung makan di sekitar pelabuhan terpaksa tutup karena kehilangan pelanggan utamanya—para nelayan dan anak buah kapal (ABK).

Suwartono, seorang juru mudi kapal asal Desa Pasarbanggi, menjelaskan bahwa mayoritas kapal yang bersandar di Tasikagung memiliki bobot di atas 30 Gross Ton (GT). Sesuai regulasi, mereka tidak berhak menikmati solar subsidi dan wajib menggunakan solar industri. Ketika harga solar industri melejit dari Rp10.500 per liter hingga sempat menyentuh puncaknya di angka Rp18.000—Rp23.000 per liter, para pemilik kapal memilih menghentikan operasional.

"Kapal yang saya bawa ini ukurannya 62 GT. Sekali jalan ke perairan Bawean atau Masalembu PP butuh sekitar 9.000 liter solar. Kalau pakai harga yang melambung kemarin, biaya operasional kami tekor total. Makanya kemarin ada sekitar 600-an kapal yang memilih mogok dan bersandar saja," ungkap Suwartono sembari memperbaiki alat tangkapnya.

Kelumpuhan aktivitas melaut ini sempat memicu kelangkaan pasokan ikan di pasaran, yang berujung pada meroketnya harga komoditas laut di Rembang dan sekitarnya. Ikan demang merangkak naik ke angka Rp12.000 per kilogram dari harga normal Rp8.000, sementara ikan muniran melonjak dari Rp4.000 menjadi Rp10.000 per kilogram.

Intervensi Harga Solar Industri

Titik terang bagi nelayan pantai utara (Pantura) Rembang ini mulai terlihat setelah Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Kabupaten Rembang mengonfirmasi masuknya pasokan BBM non-subsidi khusus dengan skema harga yang lebih rasional bagi kantong nelayan.

Sekretaris Dinlutkan Rembang, Nurida Andante, menyatakan bahwa saat ini para nelayan kapal besar di Tasikagung telah terfasilitasi oleh pihak supplier PT Indah Raya Santosa yang menyalurkan solar industri dengan harga Rp14.700 per liter.

"Harga Rp14.700 per liter ini dinilai jauh lebih kompetitif dan masuk akal bagi kalkulasi operasional nelayan dibanding saat harga melambung tinggi kemarin. Pantauan kami, saat ini sekitar 40 persen kapal sudah mulai melakukan persiapan logistik dan kembali berangkat melaut," jelas Nurida.

Nelayan Tetap Kawal Regulasi Pusat

Meski sebagian nelayan sudah mulai melaut, Sekretaris Paguyuban Nelayan Jaring Tarik Berkantong (JTB) Bhaita Adhiguna Rembang, Maksum, menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan tetap mengawal janji pemerintah. Nelayan Rembang sebelumnya telah menggelar audiensi dengan DPRD setempat untuk menuntut kepastian regulasi.

"Saat ini kami masih menunggu koordinasi dan keputusan konkret antara Kementerian KKP dengan Kementerian ESDM terkait tuntutan harga solar khusus nelayan. Solusi dari swasta saat ini sifatnya membantu, tapi regulasi harga yang stabil dari pemerintah pusat adalah yang utama," tegas Maksum.

Hingga kini, suasana di Pelabuhan Tasikagung terpantau mulai kembali sibuk. Truk-truk logistik dan pembawa perbekalan es balok mulai hilir mudik di dermaga, menandai kembalinya geliat ekonomi para pemburu rupiah di lautan Pantura. (Red)

Komentar Warga (0)

Tinggalkan Tanggapan

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!