KAWALJATENG.COM, REMBANG – Polemik penarikan Logo Hari Jadi Kabupaten Rembang ke-285 memasuki babak baru menjelang puncak perayaan yang jatuh pada tanggal 27 Juli 2026 mendatang. Komunitas kreatif Rembang Creators secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang yang mengganti logo hasil kolaborasi orisinal anak daerah secara sepihak tanpa adanya pemberitahuan resmi.
Saat dimintai konfirmasi mengenai polemik tersebut, pihak Rembang Creators mengungkapkan kronologi pergantian yang mereka ketahui terjadi di pertengahan minggu peluncuran.
"Kalau dari pihak kami merasa kecewa mas. Karena saat Rabu tanggal 1 di web resmi Rembang sudah terpajang logo sebelumnya. Tapi saat saya cek untuk hari jumat logo sudah berubah. Tanpa ada konfirmasi," ungkap perwakilan Rembang Creators saat memberikan pernyataan resmi melalui pesan digital, Senin (6/7/2026).
Kritik Geografis: Keberadaan Ikon Jembatan Suramadu dan Pelindo Dipertanyakan
Perubahan logo yang mendadak ini memicu gelombang kritik tajam dari masyarakat di media sosial. Publik menilai logo pengganti yang saat ini ditayangkan di situs resmi Pemkab Rembang sangat tidak relevan dengan karakteristik asli, identitas, serta kondisi geografis wilayah Kabupaten Rembang.
Kritik keras salah satunya disuarakan oleh akun @masyrifzh yang meminta pihak Pemkab Rembang melakukan evaluasi total terhadap logo baru tersebut karena dianggap mengabaikan orisinalitas karya lokal dan memaksakan elemen luar daerah.
"Maaf @rembangkab @harmonis.centre mungkin bisa dievaluasi dan dikaji ulang lagi. Logo dan maknanya jauh lebih bermakna dari desain sebelumnya. Dan desain dari anak-anak lokal Rembang sendiri yang tergabung dalam @rembangcreators," tulisnya.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan kejanggalan visual ikon infrastruktur pada logo baru yang dinilai sangat melenceng dari realitas Kabupaten Rembang.
"Sejak kapan Rembang ada Jembatan Suramadu? Dan sejak kapan Rembang ada Pelindo? Iya sih ada pelabuhan, tapi Pelindo ngga ada di Rembang. Tolong bisa dikaji dan dievaluasi kembali," tegas akun tersebut dalam unggahan yang viral di media sosial.
Sebelumnya, sejumlah warganet juga sempat melayangkan sindiran serupa dan menduga bahwa logo pengganti yang memiliki visual sangat kompleks tersebut menggunakan aset buatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) yang tidak merepresentasikan esensi daerah secara matang.
Karut-marut tata kelola informasi ini awalnya terendus publik dari keluarnya Surat Edaran (SE) Sekretariat Daerah Nomor 400.14.1/1069/2026 tertanggal 1 Juli 2026. Meski surat itu keluar berbarengan dengan momentum peluncuran oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar), isi dokumen digital di situs web resmi Pemkab Rembang justru berubah secara misterius pasca-akhir pekan dan menampilkan visual yang berbeda total.
Perwakilan warga, Yulianto, menyayangkan lemahnya koordinasi antar-instansi serta rendahnya apresiasi terhadap kreator lokal menjelang momen sakral hari lahir daerah.
"Ini menjadi pertanyaan besar. Bagaimana mungkin sebuah karya kolaborasi yang sudah matang dan sempat dipajang di situs resmi pada tanggal 1 Juli, tiba-tiba diubah begitu saja tanpa komunikasi? Ditambah lagi, elemen visual penggantinya justru memuat ikon wilayah lain seperti Jembatan Suramadu yang sama sekali tidak relevan dengan Rembang. Padahal hari jadi ini akan diperingati bersama pada tanggal 27 Juli. Panitia harus memberikan penjelasan transparan," ujar Yulianto kepada awak media.
Otoritas Terkait Belum Berikan Klarifikasi
Sesuai amanat Kode Etik Jurnalistik mengenai asas keberimbangan, awak media telah mencoba meminta kejelasan dari otoritas terkait. Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinbudpar Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, sebelumnya memilih untuk tidak memberikan banyak komentar. "Mohon maaf, saya belum bisa memberikan statement nggih," jawabnya singkat.
Hingga berita ini diterbitkan, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Rembang selaku pengelola dokumen komunikasi digital pemerintah daerah, serta Panitia Besar Hari Jadi ke-285, belum mengeluarkan rilis atau klarifikasi resmi guna menjawab protes dari komunitas kreatif maupun kritik publik terkait relevansi visual logo tersebut. (Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!