kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
15 Juli 2026
Logo Mobile
Kategori

Proyek Tanggul Lamban, Desa Tunggulsari Pati Terancam Tenggelam Terjang Rob

Proyek Tanggul Lamban, Desa Tunggulsari Pati Terancam Tenggelam Terjang Rob
Banjir rob kembali merendam puluhan rumah warga di Desa Tunggulsari, Tayu, Pati, Jawa Tengah, Rabu (15/7/2026). Warga mendesak percepatan proyek pembangunan tanggul seiring adanya peringatan dini puncak pasang laut dari BMKG hingga Jumat besok. (dok. Pemd

PATI, kawaljateng.com – Proyek pembangunan tanggul yang lamban membuat Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, kini berada di ambang ancaman tenggelam. Banjir rob dilaporkan kembali meninggi dan merendam permukiman warga sejak Selasa (14/7/2026).

Kenaikan volume air ini dipicu oleh fenomena gelombang pasang laut yang tengah melanda kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah (Jateng). Akibatnya, banjir rob yang sempat surut pada awal Juli lalu kini kembali mengepung desa. Kondisi ini memperpanjang penderitaan warga setempat yang areal permukiman dan tambaknya sudah terendam air laut sejak pertengahan Mei lalu.

Kepala Desa (Kades) Tunggulsari, Setyo Wahyudi, mengungkapkan bahwa lambatnya penanganan infrastruktur menjadi pemicu utama pemukiman warga terendam berulang kali. Hingga saat ini, pengerjaan fisik tanggul di lapangan masih jauh dari kata selesai.

“Tanggul pertama yang dari pemkab baru selesai 75 meter. Untuk tanggul kedua sepanjang 90 meter saat ini baru proses pemancangan. Sedangkan penanganan dari pemprov untuk tanggul kritis sepanjang 450 meter baru tahap persiapan material," ujar Setyo, Rabu (15/7/2026).

Lambatnya realisasi fisik di lapangan ini membuat pihak pemerintah desa cemas. Pasalnya, rob yang merendam 36 rumah warga di wilayah RT 05 dengan ketinggian 10 hingga 30 sentimeter pada siang ini diprediksi akan terus merangkak naik.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak air pasang laut diproyeksikan baru akan terjadi pada Kamis hingga Jumat pekan ini.

"Kami jelas khawatir kalau air naik lagi seperti puncaknya akhir Juni lalu, sementara tanggul belum siap. Ini menjadi ancaman serius bagi perekonomian warga yang mayoritas bergantung pada sektor perikanan. Warga tidak bisa bekerja sebagai petani tambak budi daya ikan nila salin,” pungkas Setyo. (Sgh/red)

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!