kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
28 Juli 2026
Logo Mobile
Kategori

Haryanto Minta Nelayan Tinggalkan Ilmu Titen, Manfaatkan Teknologi BMKG agar Selamat Melaut

Haryanto Minta Nelayan Tinggalkan Ilmu Titen, Manfaatkan Teknologi BMKG agar Selamat Melaut
Kegiatan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 yang digelar BMKG di Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Selasa (28/7/2026).

PATI, kawaljateng.com – Ancaman cuaca ekstrem dan gelombang tinggi di laut membuat nelayan tidak lagi cukup mengandalkan ilmu titen saat melaut. Perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi menuntut pemanfaatan teknologi agar aktivitas melaut lebih aman dan hasil tangkapan lebih optimal.

Untuk meningkatkan keselamatan nelayan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 di Kantor Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, Selasa (28/7/2026). Kegiatan yang diselenggarakan melalui Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang itu diikuti 34 nelayan dari Kecamatan Batangan.

Anggota Komisi V DPR RI, Haryanto, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan pentingnya perubahan pola navigasi dari cara tradisional menuju pemanfaatan informasi cuaca berbasis teknologi.

"Kalau ada cuaca ekstrem atau kurang baik, nelayan jangan pergi melaut. Kalau dulu mengandalkan ilmu titen, sekarang sudah ada teknologi dari BMKG," ujarnya.

Mantan Bupati Pati itu menilai pemanfaatan informasi cuaca menjadi langkah penting untuk menekan risiko kecelakaan di laut. Ia juga mendorong dukungan pemerintah terhadap penyediaan peralatan pendukung informasi cuaca bagi nelayan.

Sementara itu, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati, mengatakan peserta mendapatkan materi mengenai prakiraan cuaca laut, tinggi gelombang, arus, hingga kecepatan angin sebagai bekal sebelum melaut.

"Peserta diberikan informasi prakiraan arus, tinggi gelombang, prakiraan cuaca di laut, termasuk kecepatan angin. Informasi ini penting agar nelayan dapat merencanakan aktivitas melaut dengan lebih baik," jelasnya.

Selain itu, BMKG juga mengenalkan peta prakiraan daerah penangkapan ikan. Informasi tersebut membantu nelayan menentukan lokasi penangkapan yang lebih potensial sehingga perjalanan melaut lebih efisien, hasil tangkapan meningkat, dan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dapat ditekan.

Ana berharap program SLCN dapat terus berlanjut dengan jumlah peserta yang lebih banyak melalui dukungan anggaran dari DPR RI, mengingat masih banyak nelayan yang belum memperoleh pelatihan serupa.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pati, Hadi Santosa, menyebut Kabupaten Pati memiliki lebih dari 4.200 nelayan. Menurutnya, jumlah peserta pelatihan yang masih terbatas menjadi tantangan tersendiri dalam memperluas literasi informasi cuaca kepada seluruh nelayan.

"Kegiatan ini sangat bermanfaat. Pelaksanaan pada tahun-tahun sebelumnya juga terbukti membantu meningkatkan hasil tangkapan ikan sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan nelayan," pungkasnya. (Sgh/Red)

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!