kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
17 Juni 2026
Logo Mobile
Kategori

Dari Pesisir Bonang ke Panggung Akademik, Putri Buruh Terasi Raih Gelar Doktor

Dari Pesisir Bonang ke Panggung Akademik, Putri Buruh Terasi Raih Gelar Doktor
Foto: Dokumen istimewa / Redaksi kawaljateng.com

SEMARANG, Perjuangan dan doa seorang ibu menjadi kunci keberhasilan Mamluatur Rahmah meraih gelar doktor. Perempuan asal Desa Bonang, Kabupaten Rembang itu berhasil menyelesaikan studi S3 di UIN Walisongo Semarang, meski lahir dari keluarga sederhana dengan orang tua yang bekerja sebagai buruh terasi.

Keberhasilan Rahmah menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Di tengah kondisi keluarga yang serba pas-pasan, ia memilih menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk mengubah masa depan.

Rahmah menuturkan, sosok ibunya yang setiap hari bergelut dengan pekerjaan mengolah dan menjemur terasi menjadi sumber semangat terbesar selama menempuh pendidikan. Bayangan tangan kasar sang ibu selalu hadir saat dirinya menghadapi berbagai tantangan dalam menyelesaikan disertasi.

“Setiap kali saya merasa lelah menulis disertasi atau pusing dengan metodologi yang rumit, saya selalu membayangkan tangan ibu saya. Tangan yang kasar karena setiap hari menjemur dan mengolah terasi. Saya tidak punya hak untuk menyerah ketika beliau saja tidak pernah menyerah menyekolahkan saya,” ujarnya usai menjalani sidang promosi doktor di Gedung Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Rabu (10/6/2026).

Perjalanan Rahmah menuju gelar doktor bukanlah sesuatu yang mudah. Sebagai anak buruh terasi, ia kerap menghadapi pandangan pesimistis dari lingkungan sekitar yang menganggap pendidikan hingga jenjang doktoral sebagai mimpi yang terlalu tinggi.

Namun, berbagai keraguan tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk terus melangkah. Kesempatan itu semakin terbuka setelah ia memperoleh Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), program kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP yang memberikan dukungan penuh bagi mahasiswa dari lingkungan pendidikan Islam.

Menurut Rahmah, beasiswa tersebut bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, tetapi juga bentuk kehadiran negara dalam memberikan kesempatan yang sama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

Perempuan yang juga dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta itu mengaku tantangan lain yang dihadapi adalah stigma terhadap perempuan yang menempuh pendidikan tinggi.

"Banyak yang bilang, ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti ujungnya di dapur juga. Tapi saya ingin membuktikan bahwa perempuan, dari latar belakang ekonomi apa pun, berhak memiliki intelektualitas," tegasnya.

Dalam disertasinya, Rahmah mengangkat penelitian mengenai kecemasan kematian pada lanjut usia (lansia) di Pondok Pesantren Payaman, Magelang. Penelitian tersebut mendapat apresiasi dari para penguji karena mampu mengaitkan teori tasawuf dan psikologi dengan kondisi nyata yang dihadapi para lansia.

Kini, keberhasilan Rahmah menjadi inspirasi bagi banyak anak muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga sederhana. Ia berharap kisahnya dapat menjadi penyemangat agar generasi muda tidak takut bermimpi besar.

"Jangan pernah membatasi mimpi hanya karena melihat kondisi ekonomi orang tua. Selama ada kemauan dan kesempatan, pasti ada jalan. Belajar lebih keras dan jangan pernah melupakan doa orang tua," pungkasnya.

Dari kampung penghasil terasi di pesisir Rembang, Mamluatur Rahmah membuktikan bahwa mimpi besar dapat diraih oleh siapa saja yang mau berjuang dan tidak menyerah pada keadaan.

Komentar Warga (0)

Tinggalkan Tanggapan

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!