kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
9 Agustus 2026
Logo Mobile
Kategori

Bukan Sego Tewel, Kontingen Tambakromo Hibur dan Pukau Penonton dengan Krayan Pedhet

Bukan Sego Tewel, Kontingen Tambakromo Hibur dan Pukau Penonton dengan Krayan Pedhet
Kontingen Tambakromo usai menampilkan Krayan Pedhet di Festival Adhi Loka 2026. (Singgih Tri/KawalJateng.com)

PATI, KawalJateng.com – Keunikan setiap wilayah Kabupaten Pati ditampilkan pada Festival Adhi Loka tahun 2026. Di Alun-Alun Simpang Lima Pati, para kontingen 21 kecamatan menghibur penonton dengan kreativitas yang menyita perhatian masyarakat.

Di kesempatan itu, Kontingen Kecamatan Tambakromo mementaskan penampilan sendratari bertema ‘Krayan Pedhet’. Tradisi Ini lahir di Desa Maitan, Pakis, dan Wukirsari, yang mana pertanda berkah bagi masyarakat setempat atas lahirnya seekor anak sapi (dalam bahasa Jawa pedhet).

Kelahiran pedhet diiringi dengan doa dan gerakan gotong-royong warga dalam harmoni kehidupan. Kemasan tradisi ini dengan adanya anyaman janur, tumpeng, dan tata cara saling menggenggam, sebagaimana penanda menghidupkan kerukunan di tengah masyarakat.

Salah satu pelatih tari kontingen Kecamatan Tambakromo, Yheni Aprilia Susanti menerangkan bahwa Krayan Pedhet mengkombinasikan nilai kepercayaan, budaya, dan keterikatan antara manusia dengan alam. Tradisi tersebut masih lestari sampai sekarang.

“Tidak semua daerah ada ritus seperti Krayan Pedhet, bahkan di beberapa daerah di Pati ada sebagian yang belum tahu adanya Krayan Pedhet. Krayan Pedhet masih sangat terlihat unik karena ini merupakan ritus kepercayaan, budaya, adat istiadat yang terjalin antara manusia dan alam,” ungkapnya ketika diwawancarai awak media, Sabtu, 8 Agustus 2026 di sela Festival Adhi Loka tahun 2026.

Menurutnya keunikan Kecamatan Tambakromo yang masih belum dikenal publik yakni Krayan Pedhet. Pasalnya, jika mengangkat tema kuliner, maka opsi terkuatnya Sego Tewel, sementara kuliner olahan nangka muda itu sudah sering dipentaskan dan sudah dikenal luas se-antero Kabupaten Pati.

Tujuan diangkatnya tema Krayan Pedhet untuk menggali potensi kebudayaan yang masih ada supaya tetap eksis. Karya inilah yang disuguhkan oleh kontingen Kecamatan Tambakromo selama festival, mulai dari berjalan di Jalan Panglima Sudirman hingga mementaskannya di panggung yang ada di pusat Kota Pati.

“Sedangkan, Sego Tewel tidak hanya ada di Tambakromo, di berbagai daerah sudah banyak kuliner Sego Tewel yang sulit dibedakan apa yang menjadi ciri khas antara Sego Tewel Tambakromo dan daerah lainnya. Sehingga hal ini perlu dipertimbangkan untuk menggali ide suatu karya,” ucapnya.

Ia bersama tim pelatih mempersiapkan latihan selama tiga pekan. 10 kali latihan ia lalui bersama dengan anak didiknya demi penampilan yang memukau.

Sebanyak 32 penari dari Kontingen Kecamatan Tambakromo tampil atraktif. Mereka tampak membawa atribut dan kostum sapi.

Terlihat sapi melahirkan pedhet. Kemudian, penari mengerumuni dan bersyukur menyambut datangnya anak sapi itu.

“Kami ada 54 peserta, 32 penari inti. Latihan tiga minggu dalam jumlah tatap muka 10 kali,” sebutnya.

Dalam mempersiapkan ini Kontingen Tambakromo dilatih oleh Yheni Aprilia Susanti, Lourenza Fanny Andika, dan Wahyu Dwi Ramadhon. Sedangkan, bagian properti diatur oleh Siswo Setyo Utomo. (Sgh/Red)

Komentar

Sholikhati
9 Agustus 2026

Anak didik dan pelatih yang sangat antusias dan atraktif sehingga menghasilkan tarian yang memukau... Alkhamdulillah dapat pengalaman baru kakak Daffa..semoga kedepannya bisa tambah sukses.. Aamiin

Sholikhati
9 Agustus 2026

Anak didik dan pelatih yang sangat antusias dan atraktif sehingga menghasilkan tarian yang memukau... Alkhamdulillah dapat pengalaman baru kakak Daffa..semoga kedepannya bisa tambah sukses.. Aamiin