REMBANG, kawaljateng.com — Pelaksanaan proyek Rehabilitasi Ruang Kelas (Revit) SD bernilai belasan miliar rupiah di Kabupaten Rembang kian memicu gelombang kritik. Tak hanya diselimuti indikasi pelanggaran teknis dan administrasi di lapangan, jajaran pejabat Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dindikpora) Rembang justru menunjukkan sikap yang terkesan meremehkan keterbukaan informasi publik.
Terbaru, Kepala Bidang (Kabid) Sekolah Dasar Dindikpora Kabupaten Rembang, Kapti Prasetyo Aji, memberikan jawaban yang sangat singkat dan bernada menolak saat dimintai konfirmasi mengenai berbagai temuan kejanggalan pada proyek revitalisasi sekolah tersebut.
"Ora usah (tidak usah)," cetus Kapti Prasetyo Aji singkat saat diwawancarai awak media, Selasa (1/9/2026).
Sikap tertutup Kabid SD tersebut senada dengan atasan langsungnya, Kepala Dindikpora Kabupaten Rembang, Achmad Solchan. Saat dikonfirmasi mengenai temuan kayu kusen keropos hingga indikasi konsultan ganda, Solchan juga memilih menghindar.
"Maaf mas lain waktu ya," tulis Achmad Solchan singkat melalui pesan WhatsApp pada hari yang sama.
Rentetan respons irit bicara dari pejabat teknis ini seolah melengkapi tanggapan Sekretaris Daerah (Sekda) Rembang, Fahrudin, yang sebelumnya memasrahkan polemik proyek belasan miliar rupiah ini pada jalur spiritual lewat ucapan "hanya bisa mendoakan".
Indikasi Konsultan Ganda dan Material Abal-Abal
Sikap tertutup pejabat Dindikpora Rembang ini sangat kontras dengan fakta yang dibongkar jajaran legislatif di lapangan. Dalam inspeksi mendadak (sidak) Komisi IV DPRD Rembang di SDN Tasiksono, Kecamatan Lasem, ditemukan bukti material kayu kusen jendela yang sudah lapuk dan keropos tetap dipaksakan terpasang.
Tak hanya soal fisik bangunan, dewan juga menemukan indikasi conflict of interest (konflik kepentingan) yang terstruktur, di mana konsultan perencana diduga merangkap langsung sebagai konsultan pengawas proyek.
Anggota Komisi IV DPRD Rembang, Puji Santosa, menyayangkan minimnya kualitas pengawasan pada proyek yang menyedot anggaran besar tersebut.
"Beberapa sekolah yang kita sidak terindikasi menggunakan konsultan perencana dan pengawas dari pihak yang sama. Kita melihat kondisi jendela keropos, rusak kayunya, tapi tetap dipaksakan dipasang. Kita sangat menyayangkan dan kita minta untuk diganti," pukas Puji. (Red/KJ)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!