PATI, KawalJateng.com - Panen tembakau tengah berlangsung di Kabupaten Pati. Kini tembakau-tembakau itu mulai dikeringkan untuk dikemas sebelum dijual di PT Sadhana Arifnusa.
Petani tembakau asal Desa Kebonturi, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Sudarto menyampaikan masa panen tembakau di Bumi Mina Tani berlangsung sejak Juli 2026 hingga sekarang. Tanaman tembakau siap dipanen ketika memasuki usia 80 sampai 85 Hari Setelah Tanam (HST).
"Panen tembakau untuk wilayah Kebonturi mulai tanam Mei-Juni jadi mulai panen Juli-Agustus tahun 2026. Untuk proses pembelian di gudang PT Sadhana Arifnusa Rembang dimulai awal Agustus 2026," katanya kepada KawalJateng.com, Kamis, 8 Oktober 2026.
Perlu diketahui, masa panen berlangsung selama 1,5 bulan hingga 2 bulan, dengan estimasi panen daun paling bawah dipetik 3 sampai 4 daun. Sepekan setelahnya daun dipetik lagi hingga daun paling atas.
Bila ada 24 sampai 26 lembar daun. Artinya, panen bisa berlangsung hingga 6 sampai 8 pekan.
Tembakau jenis nori dibudidaya oleh mayoritas petani di wilayah tersebut. Kondisi produksi tembakau tahun ini lebih baik dibanding tahun sebelumnya karena cuaca yang mendukung.
"Proses panen tahun ini dirasakan petani sangat bagus karena kondisi panas yang sangat terik dari pagi sampai sore sangat meringankan kerja petani. Berbeda dengan tahun kemarin yang ketika penjemuran tembakau sering terkendala mendung dan gerimis," urai Sekretaris Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Pati.
Kualitas tembakau tahun ini lebih bagus ketika musim kemarau. Kemudian, panas yang terik memudahkan masa penjemuran.
Selain itu, ia mengaku bobot kering tembakau di tahun ini rata-rata menghasilkan 1 sampai dengan 1,2 kilogram. Sedangkan, di tahun lalu tembakau kering menghasilkan bobot rata-rata 0,7 sampai 0,8 kilogram.
"Cuma tahun ini rendemen tembakau cukup bagus, bisa dilihat dari perolehan bobot kering dari tetek atau widik yang menghasilkan 1 - 1,2 kilogram per tetek tembakau kering. Sedangkan, untuk tahun kemarin bobot tembakau kering setelah dijemur tetek atau widik hanya 0,7 sampai 0,8 kilogram per tetek," tuturnya.
Sebagai informasi, kualitas tembakau dilihat sesuai grade-nya. Grade L berada di daun terbawah, lalu grade M berada di daun tengah. Sedangkan, grade H berada di daun paling pucuk atau atas.
"Pembeda musim tembakau tahun ini dengan tahun kemarin adalah penamaan grade. Kalau tahun kemarin urutan dari bawah ke atas adalah F, P, dan S, tetapi untuk tahun ini L, M dan H," papar Sudarto.
Ia memaparkan harga tembakau sesuai grade. Saat ini grade L di harga Rp28 ribu sampai Rp32 ribu per kilogram. Grade M di harga Rp34 ribu sampai Rp36 ribu per kilogram.
Lebih lanjut, tembakau grade H di harga Rp38 ribu sampai Rp48 ribu per kilogram. Sedangkan, grade H* bisa mencapai Rp50 ribu per kilogram.
"Untuk harga sebenarnya dipengaruhi oleh grade yang didapatkan. Grade L ada L1, L2, hingga L3. Untuk grade H juga ada H1, H2 hingga H3, kalau tembakaunya bagus H*. Tetapi kendalanya adalah karena yang menentukan grade tembakau adalah manusia, dimungkinkan banyak sekali faktor karena banyak sekali kasus tembakau bawah yang harusnya grade L, tetapi kadang oleh gradeer yang lain bisa mendapatkan M, atau sebaliknya," ucapnya.
Sejauh ini, grade tembakau yang ia panen L dan M. Ia belum mendapatkan grade H pada hasil produksi kali ini.
Petani berharap ada peningkatan harga tembakau, terlebih biaya produksi semakin meningkat. Kali ini petani tembakau di Kabupaten Pati rata-rata di bawah Rp40 ribu per kilogram.
"Harapan petani tembakau pada tahun ini adalah peningkatan harga karena biaya produksi semakin meningkat, tetapi tidak sebanding dengan harga di pabrik atau gudang. Yang seharusnya grade untuk daun atas bisa didapat grade H, tetapi banyak petani yang masih mendapat grade M, yang kisaran harga di bawah Rp40 ribu per kilogram," ungkap Sudarto. (Sgh/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!