kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
5 September 2026
Logo Mobile
Kategori

Karnaval Sound Horeg Dinilai Ganggu Acara Kebudayaan Lokal

Karnaval Sound Horeg Dinilai Ganggu Acara Kebudayaan Lokal
Foto: Suasana karnaval sound horeg saat Harlah Syekh Jangkung Kayen beberapa bulan yang lalu. (Singgih Tri/KawalJateng.com)

PATI, KawalJateng.com - Kehadiran sound horeg dalam berbagai perayaan di Kabupaten terus menuai pro dan kontra. Fenomena itu dikhawatirkan berpotensi mendistorsi nilai-nilai luhur tradisi.  

Sejarawan dari Kabupaten Pati, Ragil Haryo Yudiartanto, memberi pandangan mendalam mengenai dinamika sosial tersebut. Baginya pelabelan sound horeg sebagai bentuk akulturasi budaya dinilai kurang tepat. Fenomena ini lebih condong pada modernisasi.  

"Sound horeg bukan penggabungan dua budaya dari suku bangsa yang berbeda 

Tetapi lebih kepada modifikasi dengan memasukkan unsur teknologi dan pengaruh hiburan urban," jelas Ragil. 

Ia mengamati bahwa sound horeg berhasil menyentuh kalangan masyarakat umum, bahkan secara frontal mungkin terbatasi jika harus menikmati hiburan malam.  

Ketika tren ini ditempelkan ke dalam wadah karnaval, kolaborasi tersebut akhirnya memicu pro dan kontra di masyarakat. 

Agar polemik ini tidak berkepanjangan, ia menilai perlunya ketegasan konsep dan bentuk event yang selaras dengan fenomena tersebut. 

Penggunaan nama seperti karnaval budaya atau kirab budaya dirasa kurang tepat jika di dalamnya memasukkan sound horeg. Hal ini dinilai kontras dengan spirit budaya Jawa yang mengedepankan olah rasa, estetika, keanggunan, kebesaran, serta keharmonisan.

Jika tajam kegiatan berupa festival sound, karnaval sound, atau sebatas karnaval tanpa embel-embel budaya, hal itu dinilai lebih pas. Sebab itu murni ditujukan sebagai parade sound horeg. Dengan begitu, tidak akan terjadi distorsi terhadap nilai, estetika, dan etika kebudayaan yang ada. 

 Sorotan khusus juga diberikan pada pelibatan sound horeg dalam rangkaian tradisi Meron di Desa Sukolilo. Sound horeg kerap dihadirkan sebagai hiburan tambahan pada malam hari. 

Ragil menegaskan bahwa inti dari tradisi ritual Meron murni dan tidak melibatkan sound horeg. Terlebih, penyelenggaraannya kerap berbarengan dengan momen bulan Maulid Nabi Muhammad SAW.

"Ritual kan memang murni tidak ada sound horeg, cuma ya momennya gak pas juga. Momennya kan ya Mauludan, memperingati kelahiran Nabi. Mosok ya dihoregi? Tetap rangkaiannya kan memperingati bulan kelahiran Nabi. Itu yang tidak sinkron," tegasnya. 

Sebagai seorang pendidik, Ragil mengaku telah berupaya memberikan pemahaman kepada anak didiknya terkait fenomena sound horeg ini. Namun, ia menyayangkan bahwa upaya di sekolah terkadang terasa kurang berdampak secara maksimal ketika dihadapkan pada realitas sosial di luar kelas.

"Saiki sekolah kencang tapi orang tuanya ikut jogetan di belakang sound horeg. Sama saja kan," pungkasnya. (Sgh/Red)

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!