PATI, kawaljateng.com – Gerakan Nusantara resmi dideklarasikan di Desa Pundenrejo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Senin (27/7/2026). Deklarasi tersebut menjadi penanda lahirnya gerakan rakyat yang mengusung semangat Menuju Putusan Tatanan Sejahtera melalui kebudayaan, musyawarah, dan gotong royong.
Tokoh aktivis lingkungan Kabupaten Pati, Gunretno, mengatakan Gerakan Nusantara berangkat dari semangat kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menurutnya, cita-cita melindungi seluruh rakyat Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan keadilan sosial harus terus diperjuangkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kedaulatan dan kesejahteraan merupakan dua cita-cita yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan," ujar Gunretno.
Ia menilai, lebih dari delapan dekade setelah Indonesia merdeka, bangsa ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan. Karena itu, Gerakan Nusantara hadir sebagai ruang bersama untuk menghidupkan kembali budaya musyawarah dan gotong royong sebagai fondasi membangun bangsa.
Menurut Gunretno, kesejahteraan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mencakup pendidikan, kesehatan, ruang hidup yang layak, kesempatan berkembang, dan kehidupan yang bermartabat.
Dalam deklarasi tersebut, Gerakan Nusantara menetapkan tiga landasan utama, yakni keselarasan, kesetaraan, dan kesejahteraan. Selain itu, gerakan ini juga menaruh perhatian pada berbagai sektor strategis seperti energi, agraria, maritim, demokrasi ekonomi, kebudayaan, hingga keamanan dan ketenteraman.
Gunretno mengajak seluruh masyarakat untuk menghidupkan kembali kedaulatan bangsa melalui kebudayaan yang berpijak pada nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
"Kesejahteraan harus diputuskan bersama oleh rakyat, bukan oleh segelintir orang," tegasnya.
Menutup deklarasi, Gunretno menegaskan bahwa Gerakan Nusantara merupakan gerakan rakyat yang ingin membangun tatanan kesejahteraan secara partisipatif, mulai dari desa hingga kota, dari pesisir hingga pegunungan.
"Tatanan itu harus lahir kembali dari rakyat Indonesia. Kedaulatan tidak diwariskan, kedaulatan itu dihidupkan," pungkasnya. (Sgh/red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!