kawaljateng.com - Mengawal Informasi Terpercaya
17 Juni 2026
Logo Mobile
Kategori

Cuaca Ekstrem Musim Timur, Banjir Rob Terjang Pesisir Rembang Hingga Rusak Rumah Warga

Cuaca Ekstrem Musim Timur, Banjir Rob Terjang Pesisir Rembang Hingga Rusak Rumah Warga
Foto: Dokumen istimewa / Redaksi kawaljateng.com

REMBANG,kawaljateng.com – Cuaca ekstrem yang memicu musim angin timur menyebabkan banjir rob hebat melanda kawasan pesisir Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, sejak Sabtu (6/6/2026). Fenomena alam ini tidak hanya merendam akses jalan dan pemukiman, tetapi juga merusak rumah warga serta memperparah abrasi di sepanjang garis pantai.

Berdasarkan data dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, terjangan rob berdampak signifikan di tiga desa yang berada di dua kecamatan berbeda, yakni Desa Pantiharjo (Kecamatan Kaliori), serta Desa Sumurtawang dan Desa Pandangan Kulon (Kecamatan Kragan).

Rumah Rusak dan Ancaman Abrasi Pesisir

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Rembang, M. Lutfi Hakim, mengungkapkan bahwa hantaman ombak di musim timur kali ini memicu kerusakan fisik. Di Desa Sumurtawang, tercatat delapan rumah terdampak rob, dengan lima di antaranya mengalami kerusakan retak hingga jebol pada bagian dinding. Total kerugian materiil di titik tersebut diperkirakan mencapai Rp 40 juta.

Sementara di Desa Pandangan Kulon, terjangan air laut memicu sirkulasi abrasi yang kian mengkhawatirkan karena posisinya yang terus mengikis daratan dan semakin mendekati area pemukiman padat penduduk.

Di wilayah lain, tepatnya di Desa Pantiharjo, air pasang merendam jalanan desa sepanjang 150 meter dengan ketinggian berkisar antara 20 hingga 30 sentimeter, serta sempat merendam bagian dalam lima rumah warga.

"BPBD sudah melakukan asesmen dan koordinasi dengan pemerintah desa serta instansi terkait. Dari BPWS Pusat direncanakan akan dilakukan pemetaan untuk penanganan tanggul laut permanen," terang Lutfi saat dikonfirmasi, Senin (8/6/2026).

Siklus Tahunan Musim Angin Timur

Menurut Yasmin, warga RT 1 RW 1 Desa Pantiharjo, wilayahnya menjadi titik paling parah karena memiliki topografi tanah yang rendah dan berada tepat di dekat muara sungai. Kondisi ini membuat air laut langsung mengalir ke pemukiman saat pasang terjadi.

"Mulainya Sabtu kemarin karena lagi ombak timur. Naiknya biasanya siang sampai sore hari. Kalau musim baratan (barat) polanya berbeda, air justru naik pada malam hari," papar Yasmin.

Warga lainnya, Suatmo, menyebutkan bahwa puncak banjir rob terjadi pada akhir pekan lalu (Sabtu dan Minggu), di mana air masuk ke rumah warga hingga setinggi lutut orang dewasa.

"Musim ombak timur seperti ini biasanya tidak langsung hilang, polanya bisa bertahan dan berulang sampai berminggu-minggu," kata Suatmo cemas.

Aktivitas Warga dan Mitigasi

Pantauan di lokasi terdampak pada Senin (8/6/2026) siang menunjukkan genangan air di beberapa titik mulai surut seiring surutnya volume pasang laut. Warga mulai membersihkan sisa-sisa material air laut, meski mereka tetap bersiap menghadapi potensi rob susulan yang diprediksi kembali naik pada sore hari.

Aktivitas perekonomian masyarakat secara umum mulai berangsur normal. Sejumlah nelayan lokal terpantau tetap berangkat melaut, namun mereka memilih radius aman yang lebih dekat dengan garis pantai demi menghindari gelombang tinggi di tengah laut.

BPBD Rembang memastikan hingga saat ini tidak ada korban jiwa maupun warga yang harus dievakuasi ke pengungsian. Kendati demikian, otoritas penanggulangan bencana mengimbau masyarakat di sepanjang pesisir utara Rembang untuk meningkatkan kewaspadaan penuh selama fase puncak musim angin timur ini berlangsung.(kj/red)

Komentar Warga (0)

Tinggalkan Tanggapan

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!