REMBANG, KAWALJATENG.COM – Memasuki paruh kedua tahun anggaran 2026, realisasi pengerjaan fisik untuk peningkatan ruas Jalan Logede–Sumber, Kabupaten Rembang, hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda dimulai. Kondisi jalur sepanjang 6,3 kilometer yang kian memprihatinkan dan dipenuhi lubang dalam memicu desakan dari masyarakat agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang segera mengambil langkah darurat tanpa harus menunggu turunnya anggaran pusat.
Sebelumnya, dalam peninjauan lapangan yang dilakukan oleh Bupati Rembang H. Harno, Pemkab Rembang menyatakan telah mengusulkan anggaran sebesar Rp15,2 miliiar bersumber dari APBN untuk kelanjutan peningkatan ruas jalan tersebut. Namun, belum adanya eksekusi fisik di lapangan hingga bulan Juli ini diduga akibat panjangnya proses birokrasi dan sinkronisasi anggaran di tingkat pusat.
Keterlambatan ini menuai respons kritis dari warga setempat yang sehari-hari bertaruh keselamatan di jalur tersebut. Warga menilai, status proyek yang masih dalam tahap pengajuan tidak boleh dijadikan alasan oleh pemerintah daerah untuk membiarkan infrastruktur yang rusak tanpa penanganan sementara.
Saat diwawancarai, Bibur, salah seorang warga Kecamatan Sumber yang rutin melintasi jalur tersebut, menyampaikan kekecewaannya atas lambatnya respons pemerintah.
"Kalaupun ini memang masih proses pengajuan di pusat, setidaknya Pemkab Rembang ada inisiatif. Jangan dibiarkan begini saja. Minimal ada perbaikan penambalan jalan yang rusak atau tim tambal sulam yang turun ke lapangan," tegas Bibur, Minggu (5/7/2026).
Keluhan Bibur sejalan dengan fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa kerusakan di sepanjang jalur Logede menuju Sumber—terutama di titik dekat Kepolisian Sektor (Polsek) setempat—sudah dalam kondisi darurat. Lubang-lubang jalan yang menganga kerap mengecoh pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua, hingga mengakibatkan kecelakaan fisik.
Merespons lambatnya realisasi proyek, Pemkab Rembang melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUTR) didesak segera mengoptimalkan pos anggaran pemeliharaan rutin jalan kabupaten. Langkah taktis berupa metode patching (tambal sulam) dinilai sebagai solusi paling realistis saat ini demi meminimalisir potensi jatuhnya korban jiwa baru sebelum proyek rekonstruksi utama senilai belasan milyar dari pusat benar-benar terealisasi.
Masyarakat berharap, Tim Reaksi Cepat pemeliharaan jalan dapat segera diterjunkan ke lokasi sebagai bentuk akuntabilitas pelayanan publik dan pemenuhan hak atas keselamatan infrastruktur bagi warga Rembang. (Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!