Alun Lasem menjadi simbol toleransi dan persatuan lintas etnis untuk mengenang perjuangan melawan kolonial sekaligus mengedukasi generasi muda tentang sejarah Kota Pusaka.
REMBANG, kawaljateng.com — Sekitar 150 warga dari berbagai elemen masyarakat akan menggelar rekonstruksi Sumpah Setia Perang Lasem 1750 di Alun-Alun Kota Pusaka Lasem, Kabupaten Rembang, Jumat (7/8/2026) pukul 13.00 WIB. Aksi budaya tersebut digelar sebagai upaya mengenang sejarah persatuan santri, masyarakat Jawa, dan etnis Tionghoa dalam perjuangan melawan penjajah.
Tokoh sejarah dan budaya Lasem, Yon Suprayoga, mengatakan rekonstruksi akan melibatkan kalangan pesantren, masyarakat lokal, hingga komunitas Tionghoa sebagai bentuk pelestarian nilai toleransi yang telah diwariskan para leluhur.
"Agendanya setelah salat Jumat, sekitar pukul satu siang kita langsung tampil di Alun-Alun Lasem," ujar Yon, Kamis (6/8).
Menurut Yon, semula kegiatan tersebut direncanakan sebagai penyampaian petisi menyusul pernyataan salah seorang ulama Rembang yang dinilai tidak sesuai dengan data sejarah ketika membahas Alun-Alun Lasem dan kerajaan Lasem dalam pengajian Haul Pangeran Sido Laut pada 31 Juli 2026.
Namun, setelah yang bersangkutan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui kanal YouTube pribadinya, agenda petisi dibatalkan dan dialihkan menjadi kegiatan edukatif berupa rekonstruksi sejarah.
"Karena sudah ada permohonan maaf di YouTube, petisi kami tiadakan. Kegiatan kami ganti dengan rekonstruksi Sumpah Setia Perang Lasem 1750," kata Yon.
Ia menjelaskan, rekonstruksi tersebut bertujuan memperkenalkan kembali sejarah Alun-Alun Lasem sebagai salah satu lokasi penting dalam Perang Lasem 1750. Dalam peristiwa itu, tiga unsur masyarakat, yakni santri, etnis Jawa, dan etnis Tionghoa, disebut mengikrarkan sumpah setia untuk berjuang bersama melawan kolonial.
Menurut Yon, tokoh-tokoh seperti Kiai Ali Badawi, Raden Panji Margono, dan Oei Ing Kiat dikenang sebagai simbol persatuan karena gugur dalam perjuangan yang sama.
"Ini simbol toleransi dan benteng kerukunan warga Lasem. Persahabatan lintas etnis dan agama ini sudah dibuktikan oleh leluhur kita yang gugur bersama, tidak ada yang lari," ujarnya.
Yon berharap rekonstruksi tersebut dapat menjadi agenda tahunan agar sejarah Perang Lasem 1750 serta nilai persatuan dan toleransi yang terkandung di dalamnya tetap dikenal oleh generasi muda. (Ez/Red)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!